Sunday, December 3, 2017

Kau (dalam) Aksara Kata

BUKAN CURHAT. Seperti mencerikan diri: Kau masih merabai kata, sembari berusaha mencari makna di tiap percakapan yang pernah hadir sebagai definisi bahagia paling sederhana-mu: dulu sekali; di kala detik-detik berdebu belum terjerat masa lalu.
Lalu kenangan..., menarik-mu dalam jeda panjang bernama jarak. Tatkala keterasingan-mu terjebak, ia menjelma bak sebuah labirin: tempat di mana kau tersesat dengan segala kerumitan yang amat sukar kau bahasakan. Kau mencoba memahami dan me-reka maksud di sela kata-kata'nya, tapi gagal. Kau coba lagi, gagal.
Alih-alih menemukan secercah sinar, malah kenyataan menyodorkan secangkir luka di tiap seduhan kopi-mu. Kau-pun terhempas dalam jurang luka tak bertepi dalam labirin itu -sakit. Kau sadar kau telah kalah. Ternyata memaksa perasaan yang tak memiliki harapan itu sia-sia.
Kau balik memundur, memaksa untuk memahami kalau “kenyataan” memang tak seindah perasaan-mu. Kau coba belajar membijak bahwa tak pernah jatuh berarti tak pernah tahu rasai makna bangkit, tapi lagi-lagi kau gagal. Bijak ternyata tak bisa datang dari hati yang goyah. Malah henyak kekosoangan hati yang menyeretmu ke dalam sepi.
Sepi itu menyelinap ke dinding hati-mu yang dulu pernah ia jamah, tanpa permisi, tanpa salam, tanpa sopan santun. Tak tahu adab. Asal masuk saja ke dalam keterasingan-mu di tengah kerumuan manusia, curang bukan?
Dan, dalam tekanan hati pertahanan-mu pun jebol, kau-pun menggerutu: Tuhan, bila Kau tak memperkenankan cinta yang kusemai dan pelihara, kenapa ia Kau bangun megah dalam sukma-ku?

Friday, November 24, 2017

Menyoal Tubuh


Tubuh adalah penjara/makam jiwa (Platon). Tubuh adalah sebuah mesin  (Rene Descartes). Saya hidup dalam tubuh saya. Tubuh adalah siapa saya. Saya adalah saya, sebatas tubuh saya (Jean-Paul Sartre). Disamping pikiran dan perasaan, terdapat Sang Penuntun yang lebih agung,... Ia adalah tubuhmu (Friedrich Nietzsche). Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/sebenarnya mayat yang saya pinjam... (sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo).
Menyoalkan tubuh adalah persoalan yang tak ada habisnya selama kita masih bertubuh. Siapa aku? Siapa tubuh ini? Apa aku berkuasa atas tubuh ini? Apa aku dan tubuh adalah satu? Ataukah, aku dan tubuh adalah dua entitas berbeda dalam penilaian?
******
Jauh sebelum seorang wanita tanpa busana menerobos area Bandara Internasional Supadio membikin geger Indonesia dan viral media sosial (15/1/2017), Spencer Tunick lebih dahulu membikin geger di New York meski tanpa viral di media sosial.
Kala itu Tunick berhasil mengumpulkan puluhan model yang Ia cari. Sebelum sesi pemotretan dimulai, Tunick terlebih dahulu memberikan penjelasan konsep pengambilan gambar kepada si para model. Tatkala sesi pemotretan tiba, di mana Tunick juga telah mengeluarkan aba-aba kepada para model tersebut, lantas puluhan model itu-pun dengan sukarela melepas pakaiannya. Telanjang. Beberapa ada yang menungging, terlentang, dan tengkurap. Tanpa menunggu jeda, Tunick pun langsung mengabadikan momen itu melalui kameranya. Klik.. Klik.
            Sama seperti wanita tanpa busana yang menerobos area Bandara Internasional Supadio, Tunick pun digiring penegak hukum dan didakwa menggangu ketertiban umum. Menyoalkan perihal ini kita bisa bertanya: Sebetulnya siapa yang berkuasa atas tubuh kita?
Di Indonesia, tubuh menjadi diskursus penting yang memicu polemik munculnya Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Dalam RUU ini secara tegas tubuh diposisikan sebagai sumber dosa dan kejahatan, karena itu tubuh mesti didisiplinkan. Dan yang akan mendisiplinkan adalah Negara sendiri.
Ternyata tidak hanya Negara yang berkuasa terhadap tubuh, Agama pun juga ikut andil dalam persoalan ketubuhan.
Islam memosisikan tubuh harus diperlakukan secara rigid. Bahkan agama ini punya kosa kata khusus pada bagian tubuh: aurat. Adapun dalam tradisi Budha, perayaan kebahagiaan “kebebasan” tubuh dikurung karena menghambat pencapaian menuju nirwana. Terlalu mengejar kenikmatan “kebebasan” tubuh membikin seseorang akan berreinkarnasi ke dalam wujud yang lebih buruk di kehidupan selanjutnya.
******
Sebelum mengenai diskursus tubuh dewasa ini mulai mendapat tempat dalam disiplin keilmuan sosial, UU Negara, dan bahkan saat ini tubuh menjadi faktor penting bagaimana seseorang bisa tampil dalam dunia seni, pelacakan tubuh dan kebertubuhan secara mendalam telah dianalis sejak era Yunani Kuno. Tapi, meskipun sudah dijadikan objek pembahasan pada masa itu, tubuh belum dianggap penting. Banyak pandangan menyoalkan tubuh pada waktu itu:
Pertama, digagas oleh Cyrenaic dengan pandangan bahwa kebahagiaan tubuh adalah kebahagiaan terpenting. Kedua, dari kaum Epicurean percaya bahwa kebahagiaan tubuh memang penting, tapi masih lebih penting kebahagiaan mental/jiwa. Kubu ketiga, kaum dari aliran Orpheus dengan begitu ekstrimnya mengatakan bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa “The Body is The Tomb Of The Soul”.
Kendati kurang dikenal, aliran di atas sangat mempengaruhi pandangan filsuf terkenal lainnya. Platon memandang tubuh (tubuh konkrit, red.) sebagai penjara jiwa. Platon mengatakan bahwa manusia harus berusaha melepaskan diri dari belenggu penjara tubuh agar dapat bebas menuju kesempurnaan jiwa. Tubuh bagi Plato adalah penghalang menuju keagungan dan kebahagiaan abadi.
Sementara bagi peradaban Romawi, tubuh sebagai pembatas jiwa yang mewujud. Para filsuf Romawi, terpengaruhi oleh Platon, menyebut bahwa jiwa sebagai bagian roh Tuhan dan tubuh sebagai bagian roh hewan. Tubuh dengan demikian harus ditinggalkan bila hendak mencapai kesempurnaan hidup surgawi.
Pandangan tubuh ini terus menubuh dalam tradisi filsafat Barat hingga ke Rene Descartes. Filsuf yang terkenal Lewat diktum: Saya berpikir maka saya ada (cogito ergo sum) ini, menganalogikan tubuh sebagai sebuah jam yang bergerak tanpa pikiran. Prinsip-prinsip mekanik diberlakukan pada tubuh, sementara roh Ketuhanan diberlakukan pada pikiran. Dengan kata lain, tubuh berada dalam aktivitas kelas dua. Atau tak ubahnya sebuah mesin.
Tubuh mengalami rekonstruksi kebertubuhan ketika paham filsafat eksistensialisme menyatakan kalau tubuh adalah diri. Dengan menyanggah paham dualisme Descartes, Jean-Paul Sartre menyatakan: Saya menghidup dalam tubuh saya. Tubuh adalah siapa saya. Saya adalah saya, sebatas tubuh saya. Sedangkan Friedrich Nietzsche, dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra sebelumnya juga telah mengatakan bahwa: Di samping pikiran dan perasaan, terdapat Sang Penuntun yang lebih agung, yaitu diri. Ia adalah tubuhmu.
******
Menurut Zen R.S, tubuh mulai menjadi perhatian ilmu sosial mulai abad 19. Kala itu Antropologi menjadi disiplin ilmu yang meletakkan tubuh sebagai bagian penting. Baru pada abad ke-20 tema tubuh menjadi titik pusat perhatian secara serius dalam diskursus sosiologi. Sehingga sejak ini lah tubuh tak lagi dipahami semata sebagai anasir fisikal melainkan juga sosial (the physical body is also social). Banyak teori yang muncul berkaitan “tubuh sosial” ini:  
Karl Marx memahami tubuh sebagai instrumen produksi, represi dan bernilai ekonomi; Maus dan Mead memandang tubuh sebagai media pembelajaran; Durkheim menyakini tubuh adalah instrumen pengorbanan individu kepada masyarakatnya; Weber memahami tubuh sebagai media asketisme religius; Simmel memandang tubuh sebagai dasar eksistensi masyarakat; Goffman memahami tubuh sebagai simbol diri; dan Mary Douglas meyakini tubuh sebagai suatu sistem simbol: Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu.
Dari semua nama itu, Michael Foucault adalah yang paling terkenal. Ia memandang tubuh sebagai instrumen kontrol kekuasaan sosial secara politis. Beberapa bukunya bahkan menjadi klasik dalam studi tubuh. Ia seperti menjungkirbalikkan tese filosofis para pendahulunya. Baginya, jiwa dan pikiran adalah efek dari tubuh. Tubuhlah penentunya. Turunan dari tese itu menyebabkan jiwa justru dimengerti sebagai perangkap bagi tubuh.
Secara rinici, Foucault menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan dalam wacana ketubuhan: (1) kekuasaan atas tubuh “kekuasaan eksternal” yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang), dan (2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh “kekuasaan internal”, berupa hasrat dan potensi libidonya.
Dari dua modus kekuasaan yang saling bertempur ini, di mana filsafat, agama, hingga negara adalah “kekuasaan dari luar” yang merepresi “kekuasaan dari dalam tubuh” memberi kita satu pemahaman pada aksiden wanita tanpa busana yang menerobos area Bandara Internasional Supadio, Tunick, bahwa puncak hasrat dan potensi libido kebertubuhan kita adalah mengenal batas dari hukum, tabu, dan undang-undang.
Tapi bersamaan dengan ini pula, budaya kontemporer ketubuhan saat ini tidak bisa menerima tubuh apa adanya. Tubuh menjelma menjadi sesuatu yang perlu dibentuk, diubah, dimodifikasi, bahkan dipilih sesuai keinginan pemiliknya. Mike Featherstone menjelaskan bahwa bersamaan meledaknya budaya konsumer, iklan, televisi, film dan produk-produk budaya populer, tubuh kini menemukan citranya sebagai komoditi. 
Puncaknya dalam era kebertubuhan saat ini kita akan menemukan satu diktum penting baru: Aku bukan apa lagi yang aku pikirkan. Aku adalah apa yang ditampilkan tubuhku.

Wednesday, November 22, 2017

Sakralnya Selaput Dara Perempuan. Benar, kah?


Malam itu kami membicarakan tentang film: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Topik persoalan yang kami angkat adalah sikap Zainuddin ke Permata-nya: Hayati, yang begitu teramat kejam.“Pantang pisang berbuah dua kali. Pantang lelaki memakan sisa.”
Menyelami perkataan Zainuddin. Lantas saya teringat pada satu kisah dari novel yang dikarang Pramoedya Ananta Toer -Bumi Manusia. Ketika itu, akhirnya Minke bisa mempersunting si Bunga Penutup Abad. Tapi, satu penyelasan muncul ketika di malam pertama saat Ia tahu kalau Ia bukan lelaki pertama yang mereguk buah cinta dari Annelies. Dirundung penyelasan dan kecewa, akhirnya Minke bertanya. “Siapa lelaki itu?”
Lainnya, jauh sebelum era reformasi dinahkodai Presiden SBY dan Jokowi. Sayup-sayup pernah aku dengar di televisi tentang berita seorang berisinial FH menceraikan Istrinya hanya berapa hari setelah mereka menikah. Persoalannya begitu pelik kata si FH, di mana sang Istri ternyata sudah tak orisinil.
Pernah satu badan lembaga melakukan survey tentang bagaimana pendapat laki-laki di Indonesia tentang keorisinilan perempuan. Apakah berpengaruh atau tidak dalam memilih pasangan. Berdasarkan hasil survey, 85,9% laki-laki Indonesia menginginkan calon pasangan yang masih orisinil. Atau masih bersegel.
Menyoalkan perihal di atas aku jadi berpikir, ternyata masih banyak di antara kita melihat dan memandang kenilai-hargaan dari perempuan hanya pada persoalan selaput dara. Padahal pada satu sisi, kita (laki-laki) tak bisa menaifkan diri kalau kita juga tak orisinil atau tak bersegel sejak kita tahu fungsi lain dari jari-jemari ketika berada di dalam kamar mandi.
*****
Seperti halnya Ayu Utami -dalam Novel: Pengakuan Eks Parasit Lajang- yang menyoalkan selaput dara perempuan ketika mengkritik salah satu Da’i Indonesia yang mengatakan selaput dara bak segel dari Tuhan, dan kita saja tak mau menerima softdrink yang segelnya sudah rusak padahal itu hanya segel dari pabrik (mungkin karena kurang terasa nyesss rasanya), aku juga membayangkan di Taman Surgawi ada sebuah Pabrik.
Di tengah-tengah Taman Surgawi itu ada sebuah Pohon Pengetahun –atau dalam Islam dikenal pohon buah Khuldi, tepat di sebelah utara ada sebuah Pabrik. Itu pabrik yang aku bayangkan. Dalam Pabrik itu ada satu ruang tempat produksi. Tampak di sana tubuh-tubuh telanjang berjejeran rapi menunggu giliran mengikuti gerak satu rel yang berputar menuju ke pos selanjutnya: Penyegelan.
Pada pos itu mesin bergerak sedekimian rupa sehingga dua kaki pada tubuh itu terentang secara mekanik. Lalu sepasang jepit besar mencengkaram pinggangnya agar jangan sampai bergeser. Bersamaan dengan itu, sebuah tuas masuk pada sebuah celah di antara dua kaki, dan lantas terdengar bunyi gertak dan desis mesin. Begitulah segel selaput dara dipasang pada setiap perempuan.
Lalu perempuan-perempuan itu siap dikirim ke muka bumi sebagai produk untuk dikonsumsi lelaki. Tidak lebih dari itu. Para lelaki membelinya dengan mahar. Tapi, jika segelnya rusak, lelaki berhak menukarnya.
*****
Katrin Bandel pernah bilang kalau “nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tidak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku.” Jika memang demikian, kita harus melihat persoalan selaput dara bukan hanya dari satu sudut pandang saja. Kenapa? Karena kehidupan manusia itu penuh liku-liku. Jadi tidak semua yang tak bersegel, tak orisinil, dan tak suci, itu tak bernilai.
Contohnya Hayati. Kita tidak bisa menaifkan diri untuk tidak melihat dari sudat pandang lain bahwa, di tempat Hayati tinggal, masih begitu kuat adat menempatkan posisi sang Datuk dalam menentukan nasibnya ketika menolak pinangan Zainuddin dan malah menerima Uda Aziz.  Sehingga bisa dikatakan ini bukan kesalahan internal dari pergolakan hati Hayati saja, melainkan bagaimana “kekuatan eksternal” kekuasan sang Datuk- kepada dirinya tidak bisa memberikan “kesuciannya” kepada Zainuddin.
Jikalau Zainuddin adalah manusia bijak, Ia tak mungkin sampai hati menjatuhkan hukuman ke Hayati yang ditimpa banyak musibah berganti-ganti itu. Orang bijak akan mengatakan “tak ada pantang lelaki memakan sisa,” jika Ia benar-benar cinta. Sebagaimana Hayati bilang, ini bukan persoalan suci atau tidak suci, melainkan ada satu kekayaan besar yang tak pernah Ia berikan ke orang lain -walaupun kepada Azis. Hanya kepada Zainuddin saja. Kekayaan itu ialah kekayaan cinta.
Pada konteks dari kisah Bumi Manusia, sikap Minke ke Annelies patut kita jadikan contoh. Ketika Ia menyadari kalau Annelies Mallema sudah tak bersegel, walaupun awalnya Ia menyesal dan kecewa, tapi dengan lapang dadanya bertanya alasan “tak bersegel” itu. Bukan malah menyalahkan dan menghinakan Annelies. Tak ada pantang lelaki memakan sisa bagi Minke.
*****
Banyak kemungkinan yang melandasi kenapa perempuan tak bersegel lagi. Seperti kasus Annelies yang ternoda tanpa kuasanya. Bukan atas kemauan sendiri. Lantas, masih pantaskah selaput dara disakralkan ketika melihat kasus seperti ini?
Atau, kita berangkat dari pemahaman umum seperti kata Puan Kelana di mana banyak orang menilai perempuan dari utuhnya selaput dara. Hilangnya ketidak-bersegelan perempuan biasanya disertai dengan keluarnya darah dari satu bagain yang tergantung bentuk, dan ketebalan selaput dara itu sendiri. Tapi, tidak semua perempuan punya selaput dara, dan ketebalan selaput dara dari masing-masing permpuan juga berbeda. Contohnya begini kata Puan kelana; ada seorang perempuan melakukan olahraga terlalu keras hingga selaput daranya robek. Lantas apakah kita akan bilang si Perempuan sudah tak orisinil dan tak besegel?
Padahal robeknya selaput dara itu dapat disebabkan oleh berbagai hal selain penetrasi dalam suatu hubungan badan. Selain itu, ada juga perempuan yang lahir tanpa selaput dara. Sehingga hal ini menyebabkan tidak semua perempuan akan mengalami pendarahan saat berhubungan untuk pertama kalinya.
Contohnya begini: Pesta pernikahan telah usai. Lalu lalang manusia yang hadir dalam pesta itu juga telah pulang. Kini, malam pertama memasuki waktunya. Pintu kamar dibuka, sosok lelaki masuk dan kemudian pintu ditutup lagi. Lantas si Lelaki melihat dambaan hatinya tergeletak di atas kasur. Oh, tidak, si Dambaan Hati itu hanya menjelma sebatas sekelangkangan saja. Atau lebih tepatnya, hanya sebatas robet tidaknya selaput dara di dalamnya. Jika tidak, hanya belaskasihan saja yang menyelamatkan si Dambaan Hati. Padahal tidak tentu si Dambaan Hati tak orisinil jika selaput daranya tidak pecah.
Aishh, bagaimana bisa manusia hidup dalam pilihan belaskasihan seperti ini? Tidak lain. Padahal persolan darah bisa juga keluar jika ada luka. Persoalan luka-pun itu sangat menyakitkan. Bagiku manusia yang hidup dalam penilaian pilihan seperti ini sangat menjijikkan. Menilai perempuan hanya pada persoalan pecah tidaknya darah, dan menjadikan permpuan sebatas objek yang dikonsumsi.  
*****
Aku juga tidak menaifkan diri menginginkan pasangan yang masih bersegel (kalau satu hari nanti memang menikah), tapi itu bukan poin utama -Itu poin terakhir. Aku tidak ingin menilai perempuan hanya pada setes darah yang pecah. Aku ingin menilai perempuan dalam satu konsep utuh bahwa dia punya masa lalu, sehingga dari itu aku tak bisa menghakimi keburukan masa lalunya sebagai penilaian pada konteks sekarang jika dia memang sudah tak bersegel.
Ya, memang agama sangat menentang hubungan badan di luar pernikahan. Tapi, apakah agama akan menyama-ratakan semua alasan kenapa perempuan tak bersegel itu dalam satu kesimpulan umum yang sangat sakral? Agama tidak seburuk itu dalam menilai.  Aku pun berpikir Tuhan juga tak se-Maha Kejam itu pula menilai perempuan: memilhat perempuan hanya pada selaput dara.
Tuhan adalah Maha Pengampun, Penyayang, dan Pengasih. Ketika hambanya yang tak bersegel itu bertaubat, apakah lantas Tuhan tak mengampuni, tak menyayangi dan tak mengasihi lewat persolan tak bersegel? Tuhan tidak sekejam kita, di mana dengan begitu egoisnya memakai nilai-nilai moral yang sangat sederhana untuk menyakralkan selaput dara dalam menilai perempuan dengan tidak melihat dan menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku.

Untuk Kohati: Suara dari Dilan

Malam itu hari Ahad. Dua orang dari kami datang ke Jogja, dan lantas berinisiatif mengadakan reuni kecil-kecilan di warung kopi untuk bersua sapa melepas kangen setelah setengah tahun lebih tidak bertemu sejak berakhirnya kepengurusan. Banyak yang kami obrolkan, mulai dari kenapa masih pengangguran, kenapa masih belum wisuda, dan sampai menyerempet perihal Kohati.
Tapi, hal terpenting yang perlu ditekankan terlebih dahulu agar tidak bias dan dibanyak-tafsirkan kenapa perihal Kohati sampai hati menjadi topik obrolan kami, itu tak lepas dari keresahan bersama mengapa sosok Kohati yang tangguh, yang berjiwa emansipasi, dan yang berbicara atas prinsip kesetaraan, belum muncul ke permukaan di setiap lini perkaderan dan perjuangan HMI. Jujur tidak ada pembahasan lain malam itu, kalau-pun ada, itu jadi rahasia perusahaan: Ayu.
Lebih spesifiknya, pada malam itu kami membicarakan mengapa sosok Kohati yang mendaku sebagai Mar’atussholehah ini, yang diklasifikasikan dalam citra diri selain harus mandiri secara spritualitas dan ekonomi, adalah harus pula mandiri secara intelektual, politik, dan sosial budaya, belum kami temukan di tengah semakin kuat dan masifnya budaya patriarki menempat kaum ihwan di HMI sebagai sosok sentral.
Tentu tinjauan kami hanya pada perspektif kebudayaan di HMI saja, bukan melalui Konstitusi. Karena pada Konstitusi, HMI telah egalitarian.
Tapi paradoksnya, tanpa kita sadari, kebanyakan dari kita (laki-laki) telah patriarki sejak dalam pikiran. Kita selalu saja menempat-posisikan kaum ahwat di HMI sebagai pilihan ke 2 dan objek.
Tengoklah pada suksesi kepemimpinan. Masih sangat jarang kita mengangkat dan menempatkan ahwat pada satu pilihan kesetaraan. Jikapun ada ahwat memimpin, itu tak lebih karena tidak ada pilihan lain. Paling banter, biasanya ahwat ditempatkan sebagai Bendahara. Minim sekali di bagian lainnya, apalagi di bidang kajian dan sampai ketua umum. Tapi, lebih parahnya lagi, kaum ahwat masih saja merasa nyaman di zona ini. Mereka masih berleha-leha, merasa enak, dan tidak terganggu.
Persoalan di atas, memang banyak kemungkinan. Bisa saja dari kita memang sudah patriarki sejak pikiran, atau juga bisa kaum ahwat HMI masih belum bisa dipandang dalam satu pilihan kesetaraan. Tapi, kalau ada di antara kita masih berfikir bahwa ahwat tidak bisa memimpin karena HMI adalah organisasi Islam, dan Islam tidak memperbolehkan ahwat jadi pemimpin, maka lebih baik ubah saja ketentuan Hak Anggota dalam Kontitusi. Ubah kalau hak dipilih lebih bersifat terbatas lagi bahwa kaum ahwat tidak bisa dipilih.
Pada konteks lainnya, kaum ahwat di HMI selalu saja ditempat-perankan di belakang. Anggaplah satu contoh di kepengurusan ada kegiatan. Terus, dikasih pembagian siapa saja yang bertugas dalam kegiatan itu. Si Ahmad jadi pemateri, si Yudi jadi moderator, dan Si ahwat di dapur: masak-masak. Pada umumnya memang selalu begini. Jika tidak, karena ada persoalan lain.
Memang tidak ada salahnya Si ahwat membantu masak-masak, itu wilayah perkaderan dan perjuangan HMI pula. Tapi, kalau dapat peran masak-masak terus -tidak lainnya, itu yang jadi persoalan. Dan ketika dapat peranan seperti ini terus menurus, jarang ada protes dari kaum ahwat. Padahal sah-sah saja di antara mereka kalau mau bilang: “Mbo, yo, aku dikasih peran lain, Kanda, jangan masak terus. Kayak jadi moderator atau jadi pemateri gitu kek. Lama-lama aku buka warteg saja kalau disuruh masak terus.”
Jujur, kami merindukan sosok Kohati yang muncul ke permukaan dan berbicara di depan layar atas nama perkaderan dan perjuangan HMI seperti kau ihwan. Karena, kami tahu sosok Kohati bukan perempuan biasa. Kalau perempuan biasa, yang kata Kanda kita, kami tahu sukanya hanya es krim dan cokelat, walaupun lebih suka kepastian. Tapi, Kohati tidak demikian. Kohati adalah perempuan yang dicitra-dirikan memiliki kemandiran spritual, inteletual atau pendidikan, politik, sosial budaya, dan sampai kemandiran di bidang ekomoni.
Kami tidak bohong, apalagi sampai membual bahwa kami merindukan sosok Kohati yang dapat berbicara lantang “kalau di antara kalian (ahwat) juga bisa muncul dalam satu prinsip kesetaraan, tidak dijadikan pilihan kedua dan hanya masak-masak saja.” Sosok kohati yang kalau kata Kartini dideskrisipkan yang berani, yang berdiri sendiri, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat, keasyikan, tidak ikut-ikutan arus. Dan sosok kohati yang digambarkan sebagai tiang negara, yang apabila perempuan baik maka baiklah negara, dan apabila perempuan rusak maka rusak pulalah negara.
Jangan buat hati yang berharap –menunggu jawaban darimu, kalau kata Zainuddin, dikecewakan, apalagi sampai digantung. Dengan hati yang berharap kami tunggu jawaban darimu, karena tidak hanya perempuan, laki-laki juga butuh kepastian.

Friday, November 3, 2017

Part I: Dibalut Senja, Dia bernama Laila

Pernah aku membaca dalam salah satu novel; lalu kenangan..., semua akan tersimpan rapi dalam ingatan.
-------------
Setiap dari kita pasti punya kesan terhadap pengalaman yang pernah kita lalui. Kesan itu menggumpal dan kemudian berevolusi menjadi satu bagian yang melayang-layang berupa bebayang dalam benak kita. Kita biasa menyebut bebayang yang melayang-layang itu sebagai kenangan. Bersamaan dengan berlalunya waktu, kenangan membuat kita beranggapan bahwa pengalaman yang pernah kita lalui seakan baru terjadi kemarin lalu. Yang juga berseolah, pikir kita, waktu begitu teramat singkat mengikis lembar demi lembar pengalaman setelah kenangan membalut-nya.
Kenangan memang aneh dan begitu menjengkelkan, mengingat ia hanya hadir ketika kesemuanya sudah harus berlalu. Tapi, begitulah takdir kenangan. Kita tidak bisa lari dari garis takdir itu, apalagi sampai hendak mengubahnya. Hanya bisa dioboti, kata pepatah bijak bilang. Terlepas dari itu, kenangan teramat adil. Sangat teramat adil. Baik yang kaya maupun yang miskin, yang baik maupun yang jahat, yang pintar maupun yang bodoh, bahkan yang tampan/cantik maupun yang buruk rupa, kesemuanya, oleh kenangan, akan dikenangi kenangan yang setimpal terhadap kesan dari pengalaman masing-masing. Seperti kenanganku tentang dia.
-------------
Seperti biasa, dalam kenangku, dia datang menghampiriku dengan pakaian serba putih. Langkah kaki kecilnya yang begitu pelan terlihat gontai dan penuh gemulai, seraya langkah para bidadari ketika memangkas jarak di negeri Kayangan. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi ke belakang. Wajahnya yang sangat halus tampak cergas memainkan kaidah kecantikan. Matanya begitu hitam nan pekat dengan tatapan jernih dan bening, tapi tegas. Aku selalu terkesima dengan mata itu. Di bawah pelopok matanya sebelah kiri ada satu titik hitam. Kotoran dari lalat itu bukan malah membuatnya tidak punya estetik, tapi membuat siapa saja yang memandang akan terpesona. Benar-benar tidak ada cela di setiap bagian tubuhnya. Jika Hayati ditempat sebagai “Permataku Yang Hilang” oleh Zainuddin dan Annelies Mallema digambarkan sebagai “Bunga Penutup Abad” oleh Minke, maka dia adalah Alegori Kehdupanku.
Ketika dia menatap dengan penuh sayu, terlukislah sebuah senyum tersamar namun tampak pasti dari tarikan bibir ke samping sepanjang dua senti. Senyum itu mengingatkanku pada titik kecil dari seberkas sinar yang hanya dapat aku temukan di sebuah petak ruang kecil tersembunyi di dalam diriku sendiri. Sebuah senyum yang kesempurnaanya tidak dapat aku jelaskan dengan pasti namun selalu memberikan makna dari alegori di kehidupanku. Alegori yang mana aku tidak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan yang fana, hanya cinta.
-------------
Kala itu senja menggantung di ufuk barat. Sembari membiarkan dirinya bersiap-siap lenyap oleh waktu, perlahan namun pasti, senja berubah menjadi keremangan gelap malam begitu menyedihkan. Bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai menyelinap tanpa permisi menusuk ke bagian tubuhku hingga ke sumsum tulang. Kenangan itu masih tersimpan rapi seperti permintaanya. Kalimat-kalimat yang diucapkannya pun masih teramat jelas jika disebut sebagai kenangan di masa lalu, seolah-olah, dalam perasaanku, dia baru saja mengatakannya.
“Bisakah kau tetap mencintaiku?” Dia bertanya sembari menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.
Aku tidak pernah tahu mengapa dia berkata seperti itu. Ada rasa kaget sebenarnya. Dia pun sangat tahu kalau aku tidak pernah percaya dengan kata tetap atau abadi selama manusia masih terikat oleh waktu. Aku teramat benci terhadap waktu. Waktu membuat apa yang kita miliki jadi fana, begitulah alasanku membenci waktu. Selama waktu masih meng-ikat kita, satu ketika kataku padanya, jangan pernah berharap apa yang kita rasakan atau apa yang kita miliki akan abadi. Keindahaan, kasih sayang, cinta, dan maupun lainnya yang diharapkan kita sebagai perwujudahan kebahagian hanya akan berakhir sia-sia, serta membuat kita kecewa. Waktu membuat kesemuanya jadi fana.
“Bisakah kau tetap mencintaiku?” Ulangnya bertanya.
Aku masih diam belum menjawab, sembari memilih kata-kata yang tepat agar tidak merasa kecewa ketika mendengar apa yang akan menjadi jawabanku. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangat mudah; tinggal bilang Ya atau Tidak. Tapi, entah kenapa aku begitu susah untuk memilih tenunan kata-kata sebagai penjelasan. Sebelum menjawab kulihat dia sepintas, dan sebaris senyum itu masih tetap terulas indah di wajahnya. Seolah-olah, dalam pikirku, senyum itu dipertahankan agar mendapakan jawaban seperti yang dia harapkan. Belum tahu, jawabku.
“Seperti halnya alasan kenapa aku bisa mencintamu yang sampai saat ini masih belum aku ketahui jawabannya, aku kira pertanyaan tadi sama begitu susahnya aku jawab. Tapi bukan berarti aku membiarkan per-tanyaan itu dengan jawaban menggantung, tidak. Aku memang tidak tahu jawabannya. Maaf,” kataku meneruskan.
“Ya, seperti dugaanku, kau akan menjawab seperti itu. Tidak perlu merasa terbebani dengan pertanyaan tadi, jadi tidak perlu minta maaf. Tapi mendengar jawabanmu yang penuh pertimbangan, ini pertama kalinya aku melihat. Sebelumnya? Tidak. Dan dari sini aku punya satu kenyakinan pada suatu saat kau akan menemukan jawabannya. Entah itu melalui aku atau orang lain, aku tidak tahu. Tapi ini hanya firasat saja, jadi tidak perlu dipertanyakan.”
-------------
Kini sudah sepuluh tahun kenangan itu berlalu. Bila aku mengenang percapakan kala itu, aku merasa sedih. Tentu tindakan sedih adalah tinda-kan sia-sia belaka, aku sangat tahu. Waktu pun tidak akan kembali terulang dengan tindakanku -merasa sedih, tapi demikianlah perasaan itu muncul seketika saat mengenangnya. Apa yang jadi firasatnya kalau aku akan menemukan jawaban itu memang benar, tapi setelah bertahun-tahun percakapan itu sudah berlalu. Dan menambah kesedihan lagi adalah saat aku mengenang permintaannya.
“Aku harap sampai kapanpun kau tidak melupakan aku. Kenanglah aku. Walaupun waktu akan mengikis kebersamaan kita menjadi puing masa lalu, aku harap di bagian petak ingatanmu bisa menyimpan rapi kenangan kita,” katanya.
Bagaimana tidak membuat bertambah merasa sedih. Dia yang pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan bahkan meminta untuk mengenangnya, ternyata tidak sedikitpun mencintaiku. Terus kenapa dia bertanya dan meminta seperti itu?
-------------
Sebenarnya, tidak seperti remaja yang berpacaran pada umumnya, kami tidak pernah tahu kapan kami secara resmi menjadi sepasang kekasih. Aku memang tidak pernah menyatakan cinta padanya, dan dia tidak pernah bertanya sejak kapan kami menjadi sepasang kekasih. Jadi tidak ada persoalan bagi kami untuk mempermasalahkan sejak kapan hubungan itu bermula. Pernah satu ketika ada orang yang bertanya sejak kapan kami jadian, aku menjawab tidak tahu. Aneh, mesti itu jawaban yang mereka keluarkan ketika mendengar penjelasanku. Tapi aku memang tidak tahu sejak kapan, dan di mana tempat kejadian itu bermula.
Pertama kali bertemu dengannya, usiaku mau memasuki 14 tahun. Kala itu aku berdiam diri di sebuah gubuk yang aku bangun sendiri di atas pohon mangga di belakang rumah. Di tempat ini pula kami sering meng-habiskan waktu bersama. Banyak yang kami obrolkan, mulai dari urusan sekolah, apa yang kami suka dan benci, cita-cita yang kami impikan, dan bahkan sampai pada karya sastra.
Kira-kira waktu itu, pertemuan pertama kami, berada pada kisaran pukul 15.30 dan 16.00. Aku memperkiran kira-kira itu karena senja yang biasa menggantung di ufuk barat sana belum tampak.
Jauh sebelum aku sadar ada seseorang di bawah dan berkata apakah boleh naik atau tidak, aku masih tenggelam dalam bacaan buku. Buku itu berisi kumpulan cerita pendek yang tebalnya sangat minta ampun, berwarna orange. Aku memperkiran ketebalan buku itu lebih tebal daripada kitab-kitab suci kaum beragama. Tebal sekali. Aku sampai pada bacaan di halaman sekian dengan judul “Sepotong Senja Untuk Pacarku.” Tapi sebelum benar-benar tahu alasan mengapa Sukab, tokoh utama cerita ini, mengirimkan sepotong senja dalam sebuah amplop kepada pacarnya, aku terkaget karena seorang anak gadis tiba-tiba muncul seketika dan berkata.
“Hei, apakah buku bisa membuat kita berpaling dari kenyataan? Kok, dari tadi aku berteriak-teriak dari bawah tidak kau dengar. Seolah-seolah kau ada di dunia antah-berantah yang terpisah dari dunia ini,” dia menyerocoskan kata-kata.
“Oh, ya?” Hanya kalimat itu yang bisa aku katakan sebagai jawaban untuk melepas kekagetan.
Dia masih menatapku, matanya jernih dan bening. Lantas kemudian dia berkata apakah diperbolehkan duduk di gubuk juga. Itu pun kalau tidak mengganggumu, katanya meneruskan. Ya, jawabku mempersilahkan. Dia tersenyum, mungkin sebagai penanda ucapan terimakasih. Aku lihat dia secara seksama, tapi garis-garis wajahnya tidak muncul sebagai orang yang aku kenal. Jadi aku yakin tidak pernah mengenal atau setidaknya pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya. Tapi sebelum aku bertanya siapa dirinya, dia sudah menyerocos lagi.
“Hei, bukankah buku itu ditulis Seno Gumira Ajidarma? Buku yang menarik. Aku pernah membacanya, imajinasi penulisnya kuat dan hebat. Membaca buku itu pasti membuat kita masuk dalam dunia antah berantah yang dibuat oleh penulis, jadi tidak heran ketika kau tadi merasa demikian. Kadang memang begitu absurd kalau kita berpikir secara logis, tapi aku kira kebasurdannya itu yang menjadi keunikan dan kemenarikan dari penulis di setiap tulisannya. Bukankah begitu?”
“Oh, ya? Mungkin,” kataku seadanya.
“Hei, jawabanmu begitu aneh, seolah-olah ..... hmmm. Oh, ataukah aku di sini benar-benar tidak mengganggumu?”
“Tidak,” kataku. “Jikapun merasa terganggu sejak daritadi aku akan turun. Atau paling tidak aku telah mengusirmu.”
“Jawaban yang begitu logis, walaupun....hmmm,” katanya sembari memikirkan sesuatu. “Masih memiliki sisi aneh.”
“Hei, coba lihat itu,” tunjuknya pada satu arah di mana senja menggantung di ufuk barat sana. “Sama seperti yang dikatakan Seno, itu adalah senja paling keemas-emas. Tahukah bahwa dulu, kata Seno, ada pemuda gila yang pernah mencuri senja –lengkap dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Oleh pemuda gila itu senja ia potong dengan menyekatnya menjadi empat sisi menggunakan pisau Swiss, dan kemudian mengirim potongan senja kepada pacarnya. Tahukah kau apa alasannya?”
Aku menggelengkan.
Dia kembali menatapku, sepintas kemudian kembali memandang ke depan. “Pemuda gila itu ingin memberikan sesuatu kepada pacarnya lebih dari sekadar kata-kata. Kata pemuda itu, kata-kata saat ini sudah meluber dan tidak lagi punya makna. Oleh sebab itu ia memberikan sepotong senja kepada pacarnya. Kalau tidak salah, Alina nama pacarnya,” jelasnya dia menerangkan. “Sebuah kisah yang romantis. Bukankah begitu?” Tanyanya kemudian.
“Ya, mungkin,” jawabku pendek.
Dalam pikirku, entah alasan apa yang ada dalam benaknya tentang senja. Apakah dia tidak tahu bahwa senja adalah pembatas antara siang dan malam. Pembatas yang mana menyebabkan dua entitas itu, siang dan malam, tidak pernah bisa bersatu. Hadirnya senja merupakan penanda berakhirnya cerita dari siang kepada malam supaya tidak perlu lagi menunggu untuk bisa berjumpa. Eksistensi senja juga melambangkan bahwa kehadirannya adalah bentuk kemirisan dari keindahan. Bahkan senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir oleh malam begitu gelap, sangat menyedihkan, dan fana.
“Ya, mungkin?” Dia mengulang perkataanku. “Jawaban yang masih pendek. Tentu masih aneh. Tapi tidak apa,” katanya. “Oh, ya, namaku Laila. Kamu?” Sambil mengulurkan tangan.
Dan di tempat ini pula, bersama bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai yang dibalutan senja, 4 tahun kemudian, dia pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan memintaku untuk mengenangnya.

Tuesday, October 24, 2017

Perkaderan HMI Dalam Teori Relativitas Albert Einstein


Salah satu dorongan untuk membahas judul dalam tulisan ini, selain diminta oleh mas Cecep -pengurus KPC-, tidak lepas dari sedikit banyaknya fenomena kader HMI saat ini yang berkesimpulan bahwa, perkaderan HMI tidak mampu menjawab keinginan atau tujuan mereka masuk dalam organisasi Himpunan ini. Tentu pemahaman seperti ini tidak dapat dikatakan memiliki kebenaran, tapi juga tidak masalah dipertanyakan.

Meminjam kalimat Luis O. Kattsof (2004) bahwa filsafat “tidak membuat roti”, Perkaderan HMI-pun demikian. Hal itu dikarenakan, Perkaderan HMI tidak pernah secara spesifik menjelaskan tentang bagaimana menjadikan kadernya sebagai politikus, pengusaha, pemikir Islam, dan sebagainya yang kita inginkan. Perkaderan HMI hanya bertujuan menjadikan mahasiswa Islam sebagai Insan Ulil Albab secara umum. Yang mana kualifikasi Insan Ulil Albab terbagi menjadi 4 bagian: Mu’abid, Mujahid, Mujtahid, dan Mujadid.

Tapi meskipun perkaderan HMI “tidak membuat roti” (Red: bisa dibaca tujuan kader masuk HMI), melalui Perkaderan HMI (Insan Ulil Albab) bisa menghantarkan setiap kader pada suatu pemahaman dan tindakan. Pemahaman dan tindakan melalui bagaimana setiap kader menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda tepungnya, menambahan jumlah bumbunya secara, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat.

Adapun konsekuensi dari pemahaman dan tindakan di atas, dapat dikatakan bahwa proses kita dalam Perkaderan HMI bersifat relatif. Tergantung bagaimana kita memaknai dan memahami dari posisi mana kita memandang Perkaderan HMI. Hal ini sesuai dengan ketentuan Teori Relativitas Albert Enstein yang mengemukakan bahwa:

 “Jika ada sebuah pesawat (acuan O) yang bergerak dengan kecepatan V terhadap bumi (acuan O) dan pesawat melepaskan bom (benda) dengan kecepatan tertentu, maka kecepatan bom tidaklah sama menurut orang di bumi dengan orang di pesawat.”

Atau penjelasan kerelatifan dalam proses Perkaderan HMI terhadap tujuan kita secara sederhana seperti ini -penulis dapatkan dari novel Edensor-: Jika proses perkaderan di HMI seumpama rel kereta api dalam eksperimen teori relativiatas Albert Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu (entah itu di tingkat Komisariat, Cabang, PB, Lembaga Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga Kekaryaan) adalah cahaya yang melesat-lesat dalam gerbong di atas kereta rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman di dalam proses cahaya yang melesat-lesat itu pada tujuan kita.

Analogi eksperimen ini tidak lain karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, serta waktu relatifnya tergantung dari kecepatan gerbong itu sendiri. Oleh sebab itu, pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja di dalam proses perkaderan HMI, namun sejauh mana dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberikan pelajaran dan sampai kepada tujuan kita hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Dari penjelasan di atas, maka ambillah pelajaran dari setiap perjalanan di atas rel kereta itu -perkaderan HMI. Jadilah kita sebagai penumpang kereta api yang mampu mengambil makna serta menyeimbangi kecepatan gerbong tersebut terhadap cahaya yang melesat-lesat dalam pengalaman kita. Sehingga dari pengalaman itu akan membentuk kita mencapai tujuan berHMI. Tapi tentunya memalui konsep insan Ulil Albab.

Oleh sebab itu, kesimpulan bahwa HMI tidak mampu menjawab tujuan kita berproses dalam Perkaderan HMI bergantung bagaimana kita dapat memahami Perkaderan HMI secara timbal balik. Juga apakah HMI itu memberikan ruang terhadap tujuan kita sebagai politikus, pengusaha, pemikir Islam, dan sebagainya, adalah sebagaimana bisa kita dapat mentransformasikan nilai-nilai dari konsep Insan Ulil Albab itu sendiri. Dan apakah tujuan itu tercapai atau tidak, itulah relatifnya. Tergantung dari kita.

Tapi terlepas dari itu semua. Hal terpenting yang harus kita tahu dan sadari, bukan pertanyaan atau kesimpulan apa yang HMI berikan kepada tujuan kita, melainkan apa yang akan kita berikan terhadap HMI. Sebagaimana yang pernah disampaikan Ahmad Wahib bahwa HMI alat, bukan tujuan. Di HMI kita hanya mencari Ridho Allah SWT, lainnya hanya bonus. Jadi bisa dikata tulisan ini hanya buang-buang waktu saja untuk kita baca. Selesai. Maaf.

.....................................
Artikel ini terbit dalam Jurnal "Qahweh" Korps Pengader Cabang Yoogyakarta. Edisi V Oktober 2017

Sunday, October 15, 2017

Atheis dan Legenda Si Nyai: Surat Undangan Menjadi Pemateri

Sebut saja si atheis dalam cerita ini adalah Si A -bukan nama sebenarnya.

Bukan lantaran ingin menjadikan tokoh Si A dalam cerita ini sebagai sosok misterius, -selain dia memang teramat aneh-, hanya ingin menjaga martabat keber-atheis-an Si A saja. Martabat dimana, walaupun Si A ini tetap berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada, tapi ternyata keber-atheisan Si A perlu dipertanyakan legalitasnya secara hukum.  

“Meskipun setiap hari kamu bilang adalah atheis, tapi saya memiliki kecenderung kalau ke-atheis-an kamu tidak konsisten.” Kata saya pada suatu hari, ketika saya meragukan ke-atheis-an Si A sembari ditemani secangkir kopi hitam yang aduhai nikmatnya.

“Kok bisa, loh? Harus berapa kali saya meyakini kamu kalau saya ini memang benar-benar atheis? Tuhan benar-benar tidak ada bagi saya.  100% saya yakin Tuhan itu tidak ada.  Seyakin-yakinnya Engkoh Felix Siauw dengan konsep khilafahnya.” Jawabnya Si A yang merasa tersinggung karena keimanannya terhadap ketiadaan Tuhan saya ragukan kosistensinya.

“Kalau kamu benar-benar atheis yang konsisten, kenapa kamu masih mencantum agama sebagai identitas kamu di KTP?” Kata saya menanggapi jawaban Si A.

“Asal kamu tahu, Boi, menjadi atheis di negeri yang ber-Tuhan ini sulitnya Naudzubillah. Saya harus berpura-pura memiliki agama di KTP itu supaya dapat diterima kerja dan bisa kuliah. Terkadang saya-pun harus berpura-pura sok-soa’an suci dan alim supaya dipandang sebagai menantu harapan mertua. Begitulah kira-kira kesulitan menjadi atheis di negeri yang serba ngawur ini, sesulit melupakan mantan. Jadi persoalan KTP adalah perihal lain dan bisa di-ma’fu.” Kata Si A tegas.

Terlepas dari persoalan identitas agama di KTA milik Si A, ke-atheis-an Si A jangan diragukan lagi keimanannya. Si A adalah atheis yang kaffah. Bahkan karya monumental Richard Dawkins yang berjudul God Delusion, buku yang dipandang sebagai kitab sucinya atheis ini, oleh Si A telah dibabat habis. Sudah khatam berkali-kali. Lewat buku God Delucion ini pula, menjadikan nama Si A sudah malang melintang sebagai pemateri di ruang diskusi-diskusi dan bahkan sampai Seminar Nasional.

Banyak alasan mengapa Si A tetap beristiqomah terhadap ke-atheis-annya; mulai dari Tuhan itu tidak real secara saintifik, Tuhan hanya persoalan omong kosong lewat khayalan manusia, Tuhan tidak lagi mampu menjawab doa-doa Si A yang sering berujung PHP, dan bahkan sampai pada tingkat ekstrim: “Tuhan tidak memiliki peran apa-pun dalam kenikmatan secangkir kopi yang kita minum ini, Boi.” Kata Si A ketika kami lagi ngopi.

Hingga suatu kejadian menimpa Si A.
##################

Malam telah larut. Bulan yang menggantung di langit mulai terlihat tampak sendu. Para pengunjung satu persatu mulai pulang. Suasana kedai kopi yang kami tempati-pun mulai sepi. Angka-angka pada jam yang terletak di samping tempat kami duduk, sudah menunjukkan hampir pukul dua belas lewat. Dikarenakan hingga pukul dua belas lewat tidak ada satu-pun wanita yang menjatuhkan sepatu kacanya, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Di tengah perjalanan pulang, lampu tiba-tiba mati. Gelap sekali. Setibanya kami di tempat tinggal yang kami huni, sekretariat dari organisasi pergerakan mahasiswa, penghuni lainnya dan para senior-senior yang biasanya berkunjung, mulai memadati ruang tengah yang hanya diterangi oleh satu batang lilin. Tapi tidak ada pengepetan di sini.

Seperti biasa, tanpa basa-basi terlebih dahulu, ketika keadaan suasana sudah demikian, salah satu senior langsung menjadi menceritakan kisah Legenda Si Nyai. Keberadaan Si Nyai ini tidak seperti kita. Si Nyai ini berbeda. Si Nyai ini tidak tampak dan kasat mata, tapi nyata. Kadang-kadang kalau Si Nyai berkenan, ia menampakkan diri di manapun. Tidak memperdulikan tempat dan siapa-pun.

Menurut perkononan dalam legenda, meskipun sekretariat yang kami huni sudah beberapa kali pindah tempat, tapi Si Nyai selalu ikut pindah mengikuti kepindahan kami.

Ada sebuah isu bergetayangan menyebutkan bahwa Si Nyai ini merupakan salah satu kader seperti kami, meskipun kami sangat yakin kalau Si Nyai tidak pernah mengikuti pelatihan kader secara formal. Sebagian dari kami juga percaya bahwa Si Nyai adalah kader muda yang dikaderisasi oleh generasi-genarasi sebelumnya, meskipun kami sangat tahu kalau Si Nyai sudah tidak lagi muda.

Konon, dengan alasan itulah mengapa Si Nyai mengikuti kami pindah. “Si Nyai itu kader militan dan loyal, maka jangan heran kalau Si Nyai itu selalu mengikuti kepindahan sekreatriat.” Kata salah satu senior.

Pernah suatu waktu katanya, untuk memberikan dedikasi nyata atas keikut-sertaan Si Nyai di setiap lini perkaderan dan perjuangan organisasi yang kami pilih dari balik keghaibannya, salah satu pengurus pada periode-periode terdahulu hendak mengangkat dan menetapkan Si Nyai sebagai Kader Kehormatan. Semuanya sepakat, meskipun pada akhirnya inisiasi ini gagal karena tidak sesuai dengan aturan AD/ART di Konstitusi.

Ketika mengadakan kegiatan diskusi di sekretariat-pun, untuk menghormati keberadaan Si Nyai, ada satu ruang kosong yang tidak boleh kami tempati. Tempat itu diyakini telah ditempati oleh Si Nyai. Karena menurut isu bergentayangannya lagi, Si Nyai ini sangat menyukai diskusi. Apalagi tema-tema diskusinya sangat radikal.

Dalam dinamika diskusi-pun tidaklah jarang Si Nyai mengangkat tangannya kepada Si Pemateri, meskipun kami tidak yakin apakah itu benar-benar tangan. Tindakan seperti ini biasa dilakukan lantaran Si Nyai berbeda pendapat dengan Si Pemateri, meskipun Si Nyai sendiri sangat tahu bahwa Si Pemateri itu tidak akan menyadiri tindakannya.
##################

Legenda Si Nyai telah selesai diceritakan. Lampu masih mati. Jam sudah menunjukkan waktu pukul dua pagi lebih sedikit. Sebelum saya beranjak untuk tidur, saya pamit terlebih dahulu kepada yang lain. Si A yang sendari tadi duduk terpisahkan dari yang lainnya dan selalu tidak pernah mendengarkan kisah dari Leganda Si Nyai, juga mulai beranjak dari ruang tengah. Tapi sebelum masuk ke kamar, Si A pergi terlebih dahulu ke kamar mandi.

Di kamar, saya langsung mengambil posisi terenak di atas kasur. Satu buah bantal saya letatkkan di bawah kepala. Sepasang guling yang empuk tidak perlu saya jelaskan letaknya berada di sebelah mana. Sembari mengangkat selimut terhangat dan ternyaman pada bagian tubuh, saya mulai memejamkan mata dan membayang sesuatu.

Sebelum mata benar-benar terpejam dan kesadaran telah jerat dunia antah berantah di dalam mimpi, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengganggu keharmonisan yang ada di dalam kamar.  Saya memicingkan mata dari balik selimut, berusaha melihat sesuatu itu dalam keremangan.

“Apa itu?” Tanya saya dalam hati. Tiupan angin agak kencang berdera. Ketakutan perlahan namun pasti mulai mendekap dan mencekam. Sepasang tangan menggerayangi bagian ujung di kedua belah kaki. Darah yang mengalir dalam pembuluh darah saya-pun terasa kental dan berat. Ranting-ranting pohon di luar menggambarkan jalinan ketegangan pada bingkai jendela. Takut.

“Ampun Nyai, saya enggak bakal membayangkan hal-hal aneh lagi. Ampun. Ampun. Saya khilaf, Nyai.” Ucap saya ketakutakan.

“Bukan, Boi. Saya bukan Si Nyai. Ini saya, Boi, Si A.” Jawabnya. “Saya tidur disini ya, Boi. Saya takut tidur sendirian di kamar. Takut sama Si Nyai.” Lanjutnya.

Jawaban dari Si A membuat saya ngerasa MAK JLEB !! Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, Si A merasakan bagaimana bulu yang ada di sekujur tubuhnya berdiri. Keringat bersuhu dingin pun jebol tidak bisa dibendung. Sesekali Si A menelan ludah dan berusaha berpikir rasional untuk menghibur dirinya sendiri dari Si Nyai, sembari berucap lirih penuh ketakutan: “Saya atheis yang tidak percaya sama Tuhan, bukan sama Si Nyai.”  Kalimat itu dilontarkan berkali-kali.

“Jiahh, kamu ini gimana sih. Katanya sudah atheis sejak pikiran. Atheis yang kaffah. Eh, malah takut sama SI Nyai. Harus konsisten dong. Tuhan sama Si Nyai kan sama-sama ghaib.”

“Tidak, Boi. Saya masih tetap atheis. Atheis saya kan tidak percaya Tuhan saja. Untuk Si Nyai itu perihal lain. Si Nyai berada diluar pikiran ke-atheisan saya ternyata.” Balesnya Si A yang masih penuh ketakutan.

Sembari menjelaskan kronologi bagaimana Si Nyai menampakkan dirinya dihadapan Si A, Si A menyerahkan sebuah amplop kepada saya. Kata Si A, amplop itu diberikan oleh Si Nyai sebelum akhirnya Si A kabur terbirit-birit dari kamar mandi tanpa terlebih dahulu mendengarkan penjelasan Si Nyai mengapa memberikan sebuah Amplop itu. Saya buka ampop itu dan begitu tercengang membaca isinya.

“Ini surat undangan dari Si Nyai. Lihat, ini ada tanda tangannya.” Tunjuk saya kepada Si A. “Si Nyai jadi ketua panitia pada seminar bedah buku God Delusion karya Richard Dawkins di institut Dunia Alam Ghaib, dan meminta kamu untuk jadi pemateri. Lengkap dengan Thor-nya juga.” Jelasnya saya kepada Si A mengenai amplop itu.

Mendengarkan penjelasan saya bahwa dirinya diundang menjadi pemateri oleh Si Nyai, membuat Si A semakin ketakutakan. Seketika itu pula Si A tiba-tiba langsung pingsan. Kalimat tuntasan saya-pun, bahwa dengan diundangnya Si A sebagai pemateri di Dunia Alam Ghaib akan memperlebar-luaskan benih-benih ke-atheis-annya ke luar dunia, tidak lagi didengar oleh Si A.

Setelah kejadian yang penuh dengan propaganda keghaiban itu, Si A mulai melaksanakan sembahyang malam dengan khusyuk. Hal ini seakan membuktikan bahwa keberadaan Si Nyai merupakan antitesa Tuhan yang sesungguhnya diciptakan bukan hanya sebagai pendobrak keimanan, tetapi juga sebagai tameng kepercayaan. Dan belakangan baru saya diketahui bahwa Si A adalah atheis yang bersekte Wahabi.

Hadiah Ulang Tahun Untuk Si Robert

Namanya Robert. Jantan. Sejak umur 3 bulan saya adopsi dia, dan sekaligus jadi walinya. Meskipun punya warna 3: Hitam, Putih dan Orange, Robert tidak pernah sumbawa dan sampai ngaku Raja Kucing dengan belang telon-nya. Tidak, Robert tidak seperti itu wataknya.

Robert itu kucing yang baik, jujur, sopan, dan tidak nakal seperti kucing lainnya. Robert adalah kucing yang penurut, penyayang, dan sangat amanah. Meskipun tidak bisa dikatakan sebagai kucing yang tampan -karena saya masih waras, kurang bertanggung jawab, dan sedikit pemalas, tapi teruntuk kesetian jangan ditanya. Malaikat juga tahu siapa juaranya: Robert.

Sekarang umur Robert sudah memasuki 10 bulan. 2 bulan lagi Robert akan berulang tahun. Saya-pun bingung mau kasih kado/hadiah apa kepada Robert. Kawan-kawan saya (komunitas pencinta kucing) ngasih saran, di hari ulang tahunnya, supaya Robert dikenalkan dengan kucing betina dan langsung ditunangkan. Lamaran.

Sebagai walinya -karena telah mengadopsi, saya mau-mau saja. Karena sebagai manusia (baca:laki-laki) yang punya ketertarikan khusus dengan wanita, kucing pun juga sama. Bertambah lagi si Robert sebentar lagi akan memasuki masa pubertas, dimana darah mudanya tidak dapat lagi dicegah dan dibendung lagi.

Ditambah lagi, saya ingin Robert tidak senasib dengan walinya, jomblo dan berapa tahun lagi masuk kategori bujang lapuk. Saya tidak mau. Cukup saya saja yang mengambil jalan sufi dan sunyi dalam ketuna-asmaraan ini . Oleh sebab itu, saya ingin mengenalkan Robert dengan kucing betina, dan sekaligus meminangnya untuk Robert.

Sebagai wali yang mencoba untuk baik dan berpegang teguh pada prinsip, saya tidak ingin memilih dan mencolonkan si Robert dengan kucing betina sembangan. Bobot, bibit, bebet, dan bahkan sampai bubut dan babatnya harus saya pilah dan pilih untuk pasangan hidup Robert.

Kalau ada kawan-kawan yang punya kucing betina dalam kualifikasi di atas-plus ditambah harus kucing yang sholehah, mohon hubungi saya. Siapa tahu nanti kita bisa jadi besan. Iya, enggak?