Tuesday, May 1, 2018

Waktu, Kenanglah Aku

Ada rasa yang selalu ingin meloncat tak tahu diri tiap kali aku mengenangmu. tatapan matamu yang tajam tapi masih mengerlingkan sisa kepolosan dari masa kanak-kanakmu, selalu membuatku terjebak dalam segenap angan yang kubayangkan di masa lalu. dapatkah kau merasakannya? kekakuanku yang tak dapat dijelaskan, dan keragu-raguanku menatap matamu secara langsung saat berada di dekatmu.

Kumohon katakan padaku: apakah jatuh cinta membuat orang jadi bodoh, ataukah hanya orang bodoh yang dapat jatuh cinta? bisakah kau menjelaskan padaku? aku tahu bodoh dan pintar memiliki makna perbedaan yang tegas. tapi, dalam cinta –ini yang kurasakan, telah membuat keduanya jadi semu, seperti kepingan salju yang hilang ditelan waktu dan malam.

Entah aku harus memulai ini dari mana. penyesalan yang kian lama kian menggerogoti hati, dan serta ketakutakan yang kini telah menyelimuti berbagai impian yang kususun rapi seperti puzzle, yang hanya terisi bayangmu, seketika mulai berhamburan bagai pecahan logam. jatuh berkeping-keping tak beraturan. maafkan aku yang terlambat menyadari.

Ini mungkin hanya permainan kiasan yang terbilang hiperbolik: tapi, tiba-tiba malam saja melabrakku dalam kenangan. seiisi ruang kamar seketika mengundang gelap seperti dihujani tinta hitam, tanpa gerutu dan tanpa siasat. itulah saat di mana aku mulai mengenangmu kembali, melalui celah yang begitu sempit di ingatan, dan lantas melemparkan ku pada masa lalu.

Kala itu senja masih menggantung di ufuk barat. sembari membiarkan dirinya bersiap-siap lenyap oleh waktu, perlahan namun pasti, senja berubah menjadi keremangan gelap malam yang begitu menyedihkan. bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai, menyelinap tanpa permisi menusuk ke bagian tubuhku hingga ke sumsum tulang. kenangan itu masih tersimpan rapi seperti permintaanya. kalimat-kalimat yang diucapkannya pun masih teramat jelas dan tegas bila disebut sebagai kenangan masa lalu, seolah-olah, dalam perasaanku, dia baru saja mengatakannya.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” dia bertanya sembari menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.

Aku tidak pernah tahu mengapa dia berkata seperti itu. ada rasa kaget sebenarnya. dia pun sangat tahu kalau aku tidak pernah percaya dengan kata ‘tetap’ atau ‘abadi’ selama manusia masih terikat waktu. jujur bila kukatakan, aku teramat benci terhadap waktu. waktu membuat apa yang kita miliki jadi fana. selama waktu masih mengikat kita, satu waktu kataku padanya, jangan pernah berharap apa yang kita rasakan atau apa yang kita miliki akan abadi. keindahaan, kasih sayang, cinta, dan maupun lainnya yang diharapkan kita sebagai perwujudahan kebahagian hanya akan berakhir sia-sia, serta membuat kita kecewa. waktu membuat kesemuanya jadi fana.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” ulangnya bertanya.

Aku masih diam belum menjawab, tapi sembari mengolah kata-kata yang tepat agar tidak kecewa mendengar apa yang jadi jawabanku. sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangat mudah; tinggal bilang ‘ya’ atau ‘tidak’. tapi, entah kenapa aku begitu susah memilih tenunan kata sebagai kalimat penjelasan. sebelum menjawab kulihat dia sepintas, dan sebaris senyum itu masih tetap terulas indah di wajahnya, seolah-olah, dalam pikirku, senyum itu dipertahankan supaya diberi jawaban seperti yang dia harapkan. belum tahu, jawabku.

“Seperti halnya alasan kenapa aku bisa mencintamu yang sampai saat ini masih belum kuketahui jawabannya, kukira pertanyaan tadi sama begitu susahnya kujawab. tapi, bukan berarti aku membiarkan pertanyaan itu menggantung, tidak. aku memang tidak tahu jawabannya. maaf,” kataku meneruskan.
“Ya, seperti dugaanku, kau akan menjawab seperti itu. tidak perlu merasa terbebani dengan pertanyaan tadi, jadi tidak perlu minta maaf. tapi mendengar jawabanmu yang penuh pertimbangan, ini baru pertama kalinya. sebelumnya? tidak. dan dari sini aku punya satu kenyakinan pada suatu waktu kau akan menemukan jawabannya. entah itu melalui aku atau orang lain, aku tidak tahu. tapi ini hanya firasat saja, jadi tidak perlu dipertanyakan.”

Kini sudah sepuluh tahun kenangan itu berlalu. Bila aku mengenang percapakan kala itu, aku merasa sedih. Tentu tindakan sedih adalah tindakan sia-sia belaka, aku sangat tahu. dan waktu pun tidak akan kembali terulang dengan merasa sedih, tapi demikianlah perasaan itu muncul saat mengenangnya. dan apa yang jadi firasatnya kalau kelak nanti aku akan menemukan jawaban itu, memang benar, tapi setelah bertahun-tahun percakapan itu telah berlalu. menambah kesedihan yang begitu nelangsa lagi, adalah saat aku mengenang permintaannya.

“Aku harap sampai kapanpun kau tidak melupakan aku. kenanglah aku. walaupun waktu akan mengikis kebersamaan kita menjadi puing masa lalu, kuharap di bagian petak ruang ingatanmu masih bisa menyimpan rapi kenangan kita,” katanya.

Bagaimana tidak membuat bertambah merasa sedih dan nelangsa: dia yang pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan memintaku mengenangnya, ternyata tidak sedikitpun mencintaiku. “terus, kenapa dia bertanya dan meminta demikian?” kukenang pertanyaan dan pernyataan itu. seketika itulah tangisku pun pecah, aku baru menyadari: cinta memang tak terikat waktu dan tak pernah tepat waktu. dan kuambil undangan pernikahan esok hari yang menerangkan namanya. maafkan aku yang terlambat menyadari cinta.

Sunday, April 22, 2018

Le coup de foudre


Katakanlah apa yang kita cari adalah kebahagian. Kebahagian sendiri, meskipun terdengar sangat klise disampaikan, diselimuti oleh cinta. Benarkah memang begitu adanya? Entahlah. Dalam penggalan lirik Dewa 19: Cukup Siti Nurbaya, satu nada menyabdakan bahwa “hanya cinta yang sanggup sejukkan dunia”. Aishh, cinta.... Lagi-lagi cinta. Terkadang aku memikirkannya juga. Terlebih cinta yang tumbuh pada pandangan pertama.

Le coup de foudre” bangsa Prancis mengkalimat istilah “cinta pada pandangan pertama”. Secara harfiah istilah tersebut bermakna halilintar atau petir. Tapi jika kedua pasang mata bertemu saling bertabrakan hingga membuat detak jantung berhenti seketika, “le coup de foudre” berurusan dengan emosi yang bisa menghilangkan keseimbangan jagat. Logika kita lumpah. Segenap rasionalitas akal yang biasa menghubungkan premis mayor dan minor tidak lagi menemukan kesesuaiannya dalam membentuk konklusi. Sesat pikir.

Bagimanapun juga cinta pada pandangan pertama adalah cinta yang menggelora. Bagaima tidak. Cinta pandangan pertama itu tentang keinginan untuk menelusuri suatu hal baru dan begitu asing, seperti sebuah peta yang haus dijelajah. Aku baru menyadari itu belakangan. Ketika mata itu menabrak pandangku, tiba-tiba saja aku merasakan ketidak-seimbangan. Akal mulai dikesampingkan. Hanya hati yang berkendak. Aku juga merasakan bahasaku telah tertinggal pada pertemuan itu. Benar-benar terseret dalam satu nuansa.

Jika nuansa “le coup de foudre” ini diilustrasikan dalam sebuah miniatur lukisan seperti karya empu-empu Timur Tengah, aku tidak yakin apakah mereka, para empu itu, bisa menggambarkan perasaanku yang terseret, seolah menyelusup memasuki sebuah dunia dalam senjakala, di mana alam semesta terasa tertelan oleh ketidak-seimbangan seberkas cahaya kuning, dan serta seonggok hati yang mulai mau meloncat menyapa cinta itu, dalam sapuan warna-wanri yang tepat dan pas.

Friday, April 20, 2018

Penutup Kepengurus di HMI: KPC


Benar yang disampaikan empunya Fisika, Albert Einstein, melalui konsekuensi relativitas khususnya –dilatasi waktu, bahwa gerak waktu bisa terasa begitu lambat dari ketentuan sebenarnya bila kita rasakan, dan sebaliknya, bila kita menengok serpihan kenangan yang telah tersimpan rapi dalam ingatan, waktu seolah bergerak begitu cepat, pun kami rasa baru kemarin lalu kami dilantik. 
Tentu persoalan di atas  bukan untuk memelankoliskan waktu terhadap suatu kenangan selama jadi pengurus KPC, melainkan telah menjadi sifat dasar dari ruang-waktu yang dijelaskan dalam teori relativitas bila coba kami uraikan dalam tenunan kalimat rasa. Tapi hakekat waktu tetaplah waktu, mengikat kita di tiap dimensi bila ruang tetap menyediakan dimensi gerak, perubahan.
Akhir kisah, tibalah kami pada suatu waktu dipengujung cerita, pada satu tempat pemberhentian yang telah kita ketahui, mengembalikan amanah yang kami emban. Kabut tipis pun pelan–pelan jatuh di lembah Himpunan Karangkajen, dimana kita pernah berdiri tegak dan terduduk diam di dalamnya. 
Dan apakah kalian masih selembut dahulu? Meminta kami berdiskusi tentang arah perkaderan HMI di masa yang datang, sembari diseduhkan secangkir kopi hitam yang selalu menyimpan cerita hangat dalam tiap seduhannya. Kita memang bisa berbeda dalam tiap hal, tapi HMI telah membingkai kita dalam kata Himpunannya.
Terimakasih telah mempercayakan Bidang ini pada kami.

Thursday, April 19, 2018

Tentang Sandal


PROLOG: Agus Mulyadi –redaktur mojok.co, masih sibuk membandingkan sandal swallow dan sandal hotel. Yang katanya, seprestisius apapun sandal hotel, ia tak akan pernah bisa membawamu berjalan jauh, sebab sejatinya, ia hanya sandal spons yang ringkih dan murahan. Sebaliknya, sejelata apapun sandal swallow, ia akan selalu siap kau ajak menyusuri jalanan yang jauh dan terjal sekalipun, sebab ia adalah sandal karet yang kuat dan nyaman.
--------------------------------
Tatkala kami masih sibuk membandingkan sandal hotel dan swallow, datanglah laki-laki berbadan tegap, memakai tas kecampang, dan bersandal eiger. Dari perawakannya bisa ditebak kalau dia adalah seorang pendaki. Setelah memesan kopi kental, dia mengambil tempat duduk tetap di depan kami.

Bagaikan seorang waliyullah, dia langsung menimpali obrolan enak kami seolah dia telah mendengarkan isi percakapan kami dari perjalanannya menuju ke kedai bento kopi. Dan, berkatalah dia bak sebuah sabda. “Memilih sandal bukan perkara mudah dan gampang, cong. Butuh laku spiritual tinggi dalam memilih sandal yang pas untuk kita,” kata laki-laki itu memulai pembicaraannya.

Lalu kopi kental yang dia pesan, datang. Dia menyeruput kopi kental itu dengan khusyu’, sembari setelahnya menyalakan sebatang rokok apache. Tempias cahaya dari percikan api korek kriket itu menunjukkan tulang pipinya yang menonjol, petanda dia adalah penantang maut. Dengan air muka tampak serius, dia melanjutkan sabda-sabdanya bak sebuah hadist rosulullah.

“Dalam perjalananku yang jauh dan terjal, sudah tak terhitung meminta tumbal berbagai macam sandal. Semuanya berakhir dengan tragis. Kualitas material dan desain –yang pastinya menunjukkan kedalaman ilmu laku spiritual pembuat sandal– sangat berpengaruh pada kehandalan sandal, dan dari semua itu ada satu sandal.”

Kami yang mendengar perkataaan dari laki-laki yang mendakukan diri sebagai si pejalan jauh dan terjal, takjub, pun sembari menunggu sabda penutupnya. “Pada akhirnya, cong, hanya sandal eiger-lah yang sanggup menuntunku menuju puncak spiritualitas tertinggi. Bukan sandal swallow dan hotel, ataupun sky way dan lily,” kata si pejalan jauh dan terjal bersabda tegas.

Kawan-kawan yang budianduk, eh budiman-budawati, seperti kata Agus Mulyadi, kami memang sedang berbicara soal sandal, bukan soal cinta. Tapi silakan jika kalian mau menarik garis lurusnya. Sebab, pada akhirnya cinta adalah persoalan perjalanan jauh dan terjal.

Tuesday, April 3, 2018

Era Milnial, Tantangan Perkaderan HMI


Secuap Keresahan
Perkaderan HMI memang tak ada habisnya diulik. Ia seolah Pancasila yang tak hentinya dikaji di tengah keterasingannya pada babak politik identitas. Ruang-ruang diskusi pun masih banyak diisi olehnya –Perkaderan. Entah dipahami atau tidak itu lain persoalan. Bahkan diujung kegalauan, tatkala kebisingan perubahan zaman mulai mengendap di permukaan, tak pelak seputar relevansinya pun dipertanyakan: Benarkah Perkaderan masih relevan? Bukankah zaman sudah berubah? Bukankah Perkaderan harus mengikuti zaman? Ataukah, zaman harus mengikuti Perkaderan?

Tentu persoalan di atas bukanlah ruang sakral yang tak bisa kita ulik atau dikotak-katik. Toh, meskipun Perkaderan memiliki kedudukan yang sentral tentang mati-hidupnya HMI, Perkaderan (red: Khittah Perjuangan dan Pedoman Perkaderan) bukanlah kitab suci yang tak lepas dari kritik/pembenahan. Terlebih, Perkaderan kita tidak mengalami perubahan (lokakarya) sejak tahun 2006. Lebih dari satu dekade, bayangkan!!

Banyak desiran angin mulai mengembuskan persoalan Pedoman Perkaderan harus segera dilokakarya. Perubahan, atau setidaknya pengkajian kembali penting, bisik-bisik menyeruak di gendang telinga. Tapi itu hanya berhenti pada bisik-bisik saja, masih seperti biasanya. Aishhh........ sangat klise dan begitu ironis. Bagaimana tidak. Organisasi yang sejak berdiri telah memproklamirkan perkaderan sebagai pusat jantungnya ini malah mengalami kemandekan. Apakah kita terlalu naif untuk tidak menilik persoalan ini?

Mengintip Era Milenial, Menelaah Perkaderan
Dunia telah menujukkan perubahannya. Wajah zaman kini jauh sangat berbeda dengan zaman saat HMI berdiri. Kita telah masuk pada satu fase zaman yang disebut era milenial. Milenial sendiri pertama kali diperkenalkan Karl Mannheim dalam esainya: “The Problem of Generation” pada tahun 1923. Yaitu, sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X: kisaran tahun 1980-2000-an.

Generasi era milenial ditandai dengan penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Banyak yang mengemukakan bahwa generasi ini memiliki kecenderungan berfoya-foya, hedonis, dan membanggakan pola hidup bebas. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa karakteristik generasi ini adalah apatis dan individual. Tidak peduli terhadap keadaan sosial. Apalagi disuruh mengerti dunia politik dan perkembangan ekonomi kita.

Bersiaplah menaruh kekecewaan, jika seandainya hal itu benar-benar didata dan diteliti. Dalam kerangka dan konteks itulah tantangan HMI semakin berat, baik internal (perkaderan) maupun eksternal (perjuangan). Padahal, roda organisasi harus terus dikayuh menuju tujuan muara kebahagiaan dan kemakmuran yang hakiki. Sebab itu, HMI harus mampu beradaptasi, menyesuaikan student need dan student interest.

Student need dan student interest adalah persoalan yang harus kita teliti untuk menelaah Perkaderan HMI. Apakah Perkaderan harus disesuaikan dengan student need dan student interest, ataukah para mahasiswa harus menyesuaikan Perkaderan HMI. Tentu perkaderan HMI yang mengasaskan Islam sebagai gerak dasarnya masih sangat relevan untuk disesuaikan. Terlebih, kerelevanan ini sebagai bentuk siar HMI yang sejak keberdiannya ingin membumikan Islam.

Mungkin persoalan yang paling muluk yang harus diperhatikan adalah, bahwa generasi milenial merupakan generasi yang posivistik. Yakni, mengukur apa yang dijadikan tindakannya dalam takaran untung-rugi. Inilah yang harus ditilik oleh perkaderan HMI. Tidak hanya sibuk terhadap nilai-nilai perkaderan yang sangat universal, setidaknya bagi penulis: sangat fundamentalis. Itu memang tidak mengapa dan tidak salah.

Sudah saatnya Perkaderan HMI mulai melihat betapa postivistiknya mahasis-wa era milenial ini melihat segala sesuatu. HMI harus mulai melihat mahasiswa dalam bentuk 3 fakultas, sains, sosial, dan agama. Ketimpangan 3 fakultas ini sangat terasa di perkaderan HMI –dalam kegiatan. Pembicaran sains tidak memiliki ruang dalam perkaderan HMI. Terlebih era milenial ini juga ditandai oleh teknologi. Terakhir –bagi penulis, HMI sudah saatnya menyayapkan Lembaga-Lembaga Kekaryaannya untuk menyikapi era milenial ini sebagai bentuk perkaderannya. Karena Lembaga Kekarya-an sebagai institusi yang menampung student need dan student interest.

Saturday, March 31, 2018

Sajak Liar: Tanpa Judul

Dipengujung waktu, dipersimpangan jalan himpunan,
Kau tak pernah tahu kalau bahasaku telah tertinggal
Tertinggal bersama rasa ingin tahuku tentangmu
Makin hari, makin subur rasanya bunga-bunga itu,
Tumbuh bersama angan dalam semua kemungkinanku denganmu

Awalnya kubiasa-biasa saja, tak merasakan apapun
Tak ada istimewa, dan tak ada spesial juga tentunya
tapi, siapa yang bisa melawan hati?
Hati tetaplah hati, bukan akal yang bisa berlogika
“Hidup memang sederhana” –Kata kebanyakan orang berkata
tapi bagaimana kita bisa menyederhanakan hati manusia –cinta?

Lambat laun semua berubah, seperti ada yang lain
Tentu kelainan ini bukan dari negara api yg menyerang
Lain, ini memang lain. Kelainan ini bak sebuah fatamorgana,
Yang tatkala kau mendekat, sesuatu itu langsung menghilang

Usut punya usut, penyebab utamanya adalah kamu
Ya, kamu yang pernah jawab ‘Ya’ dalam permainan logika

Diam, adalah kata yang tepat tuk menggambarkannya
Karena secara diam, bebayangmu diam-diam menyusup perlahan,
Menyelinap ke dinding hati yang dulu pernah sempat terjamah,
Merajut serpihan kasih dari benang asmara yg telah kusut
Pertahananku pun jebol, pintu hati kembali terbuka
dan secara diamnya kau berhasil masuk di satu petak ruang hati

Aishh...sial, keluhku. Hati yang belum sembuh total ini
Yang masih dalam tahap proses pemulihan
Yang dulu pernah tersakiti, 
Kembali terketuk

Bersama angan, kumulai mengaksarakanmu dalam kata
Kata yang sekian lama terlantar dibalik kursi itu, kuambil
Kususun kata-kata itu menjadi wajahmu
Hanya perlu goresan kecil kuperbaiki rambutmu yg hitam pekat
Senyummu pun tersimpul mesra ditiap derit gerak penaku

Hey....Kau tahu? Kata-kata itu memegang hidungku
Kurasai kalimat lirih berbisik menelusuri relung hati:
“Saatnya kau berhenti melamun mengangankanku”

Seketika itulah kusadar:
Kita memang terpisah dalam dua maginasi yg berbeda
Kau terlahir dari serpihan sajak
Sedangku menyusurimu dalam jemari yang menari
Menari dengan segala kemungkinan yang paling mungkin kuangankan
Kemungkinan yang hanya akan menjadi sebatas kemungkinan
Yang takkan pernah mungkin menjadi kenyataan

Jadi, biarlah kata-kata itu kembali kuhamburkan
Kembali berserakan tersapu waktu, terlantar lagi dibalik kursi
Karena seperti katamu: “Berani mencintai, harus berani sakit”

Friday, January 5, 2018

Sama (Analisis): Kritik atas Kritikan Pidato Ketua DPM UII

Ada perasaan yang terselib kala membaca tulisan dari: Kritik Atas Pidato Ketua DPM UII. Bukan karena akhirnya saya berkata (lagi dan lagi): “Wah, ada juga yang menulis tulisan seperti itu.” Tidak, melainkan: “Kok, ya, ya,...., itu saja yang jadi pembahasan (kurang enak dibaca oleh kader HMI) kala ada tulisan tentang HMI di LPM di tingkat Universitas.”
Bukannya apa atau ada apa. Toh, tiap orang kan sah-sah saja berkata-kata untuk saat ini bukan? Yang mana tiap kata-katanya tersimpul jadi kalimat hingga terbentuklah satu cerita –seperti yang (anda) tulis, dengan mengambil satu atau hanya dua premis sebagai dasar logikanya untuk mengonklusikan: Itulah HMI sebenarnya.
Atau lainnya, untuk mengaburkan suatu fakta (apa itu HMI bagi UII, pun UII bagi HMI) sesungguhnya (jika kata lain dari mengaburkan: ‘memutar-balikkan’ fakta, terlalu tendensius), (anda) mencoba bermain dalam kata-kata, yang tiap kata diubah artinya dan tiap arti kata diubah maknanya, tentu masih saja bersembunyi dari satu atau hanya dua premis sebagai dasar logika untuk mengonsklusikan: Kayak gitu lo, saudara-saudara, HMI itu di UII.
Sebenarnya, lagi-lagi saya bilang, itu tidak apa. Tiap orang sah-sah saja menilai HMI kayak apa dan gimana. Tapi, saudara-saudara, kalau saya diperbolehkan bermain kata-kata pula, bolehkan saya juga bercerita? Biar adil. Kalau dia diperbolehkan kenapa saya tidak? Setidaknya, cerita saya juga bisa mengaburkan suatu fakta.
Apakah HMI punya histori terhadap UII? Iya, benar, sebagaimana kita (mahasiswa UII) juga adalah sejarah bagi UII karena telah menyusup dan menempati waktu dan ruang di dalamnya. Bukankah UII dibangun bukan dari satu golongan? Iya, benar, banyak. Jadi bukan milik satu golongan, tapi tidak pula (anda) hendak mengaburkan satu golongan (HMI yang juga punya kontribusi), kan? Mudah-mudahan. Amin.
Terus, apakah HMI diistimewakan? Mungkin, iya –Lebih baiknya (anda) tanya kesiapa yang memberikan dan kenapa diberi keistimewaan. Kenapa begitu? Biar enak dan jelas, serta (anda) tidak terjebak genjutsu mugen tsukuyomi ketika menilai -atau paling tidak terkena fallacy of dramatic instance (over generalisation) kalau kata Jalaluddin Rahmat dalam mengonskulisakan HMI dan HMI (seperti demikian).
Pertanyaan selanjutnya, apakah HMI jadi tuan rumah? Mungkin pula, iya. Tapi, makna dari kata tuan rumah itukan banyak. Bisa saja kalian adalah tuan rumah karena kalian membuat rumah, (anggaplah orang asing) kemudian jadi menantu dari satu pemilik rumah juga bisa disebut tuan rumah, (anggaplah orang asing lagi) karena punya kedekatan emosional yang begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah lantas si pemilik rumah menganggapnya sebagai tuan rumah. Atau lainnya begini: Kita bermain pada satu rumah, terus si pemilik rumah bilang, “anggaplah seperti rumahmu sendiri,” bukankah kita juga jadi tuan rumah?
Jadi tuan rumah yang mana yang anda maksud itu penulis yang budiman? Tolonglah jangan buat saya bingung dari kata-kata yang mengaburkan banyak makna itu, yang seolah anda ingin memberikan ‘sesuatu’ tapi ketika saya hendak mendekat untuk mengambilnya, seraya bak fatamorgana, ternyata ‘sesuatu’ itu langsung hilang. Cukuplah yang berlaku kayak gini itu perempuan saja: sering meng-PHP-in. (sorry, bercanda)
(anggaplah) tuan rumah itu adalah dikarenakan mempunyai kedekatan emosional yang begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah, apakah itu salah? Terus kalau kayak gitu apalagi yang jadi masalah? Masih mau bermain-main lagi dalam kata-kata cerita untuk genjutsu-genjutsuan? Tidak apa.
Tapi, sebelum itu, saya hendak mengajak anda, seperti halnya kisah (histori HMI dan UII) yang (oleh saya) dianalogikan seraya perjalanan Tong Sam Cong mengambil kitab suci ke barat (yang mana dari kitab suci membuat pemilik rumah mengangap kita sebagai tuan rumah atau tidak), yang harus melalui 33 tangtangan dan 99 rintangan, yang harus berjalan setapak demi setapak mendaki gunung, lewati lembah, serta bertemu dan menghadapi para siluman (anggaplah siluman ini adalah bagaimana HMI ikut berkontribusi dalam kasus Kampus Antara, Kasus dugaan Korupsi berapa birokrat pada tahun 2013, dlll), setelah melalui semua itu, Sam Cong pun bertanya pada Go Kong. “Tadi saya dikritik (analisis) lewat persoalan ‘tuan rumah’.”
“Sudahlah guru jangan ditanggapin. Mereka tidak tahu bagaimana perlajanan guru mengambil kitab suci ke barat. Hanya mengambil potongan cerita sebagaimana satu atau hanya dua premis untuk mengonklusikan perjalanan guru ke barat,” kakak pertama itu terdiam sebentar dan seperkian detik kemudian (sebagaikesimpulan saya terhadap analis kritik tulisan anda, pun (mungkin) tulisan saya ini), Go Kong berkata:
“Seperti katamu, guru, (pun, mengenai tulisan itu) adalah, 'Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi,' dengan mengaburkan berbagai fakta dalam kata-kata untuk membuat cerita yang sama sekali tiada makna dan artinya."

Tuesday, December 26, 2017

Aku ber-Konstitusi, maka Aku berHMI

Oleh:
Suara Milea lagi kangen Dilan
 
Tak elok rasanya kalau mendaku ber-Islam tapi tak ber-Muhammad SWA, ber-Indonesia tapi tak ber-Pancasila, berpujangga tapi tak bersyair, dan tak ber ber lainnya. Begitu pun dengan HMI. Mendaku ber-HMI tapi tak ber-Konstitusi, meminjam sebait lagu dari Inul Daratista, bagai sayur tanpa garam. Hambyar, enggak enak, dan omong kosong.
Jika kita pernah dengar nama Rene Descartes, filosof yang dianggap masyhur di abad modern ini pernah menyusun dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitans (yang dipikirkan) lewat diktum terkenalnya: cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada), maka dalam konteks HMI kita akan temukan diktum: Aku ber-Konstitusi, maka aku ber-HMI.
Kenapa? Karena keber-HMI-an kita bergantung bagaimana kita memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai Konstitusi itu ke dalam diri kita, baik secara induvidu maupun organisatoris.
Kita tak boleh begini, kita harus begitu. Kita harus membayar uang pangkal, tak boleh tidak. Kita harus punya peranan terhadap aktifitas HMI, tak boleh tidak. Kita harus menjaga nama baik HMI, bukan malah saling menghina dan bahkan mencermar-burukkan. Kita (anggota biasa) punya hak berpendapat, bukan malah ketika mengkritik pengurus dibilang intervensi atau menjantuhkan.
Pengambilan kebijakan internal (seperti reshuffle) harus di rapat Pleno, bukan malah di Rapat Harian atau Bidang. Kedudukan Lembaga khusus (seperti Kohati) harus di struktur Pimpinan, bukan malah di Lembaga Koordinasi. Sekretariat sebagai pusat kendali aktifitas organisasi, pusat komunikasi organisasi, pusat kegiatan administrasi, wahana interaksi, bukan malah tak berpenghuni. DLL. (ampuni Adinda Milea, Kanda-Yunda, bila dinda salah)
Landasan keber-HMI-an tergantung dari ber-Konstitusi-an ini tak pelak dari, bahwa Konstitusi adalah identitas bagi suatu organisasi. HMI diakui eksistensinya hanya jika secara de facto ada, jika memiliki identitas organisasi berupa konstitusi. Pihak eksternal akan melihat keberadaan HMI sesuai apa yang diakuinya dari konstitusi. HMI dikatakan berbeda dengan organisasi lainnya lewat persoalan Konstitusi.
Bahkan meski sama-sama memakai nama HMI, HMI kita dianggap berbeda dengan HMI sebelah yang sama-sama mendaku satu Bapak Lafran Pane tapi tidak tahu siapa ibunya ini, itu lewat persoalan Konstitusi. HMI kita memakai Khittah Perjuangan, HMI sebelah memakai NDP. DLL.
 Oleh karena itu, akan tampak aneh jika dari kita mendaku HMI tapi tak ber-Konstitusi. Bagaimana kita tahu HMI menafsirkan Islam sebagai asasnya, jika pemahaman Khittah Perjuangan belum tahu. Bagaimana kita memahami HMI berstatus organisasi kemahasiswaan serta beridentitas organisasi perkaderan dan perjuangan, jika Pedoman Perkaderan saja belum baca. Bagaimana kita tahu mana struktur kekuasaan, struktur pimpinan, dan pengambilan keputusan, jika Pedoman Struktur Organisasi tidak dipahami. DLL.
Atau yang lebih parahnya, Kanda-Kanda sekalian, bagaimana kita dapat memahami Ahwat Kohati, jika adanya PDK Kohati saja belum tahu. Guyon. (ampuni Adinda Milea, Yunda, bila dinda salah memahami)
Tulisan ini memang tampak konyol, tak bermakna, tak berarti, tapi jika kita kontekstualisasikan pentingnya pemahaman Konstitusi ditiap lini kultur perkaderan pada saat ini, akan berbeda.
Dalam pemahaman administrasi misalnya, tidak sedikit dari pengurus Komisariat jika membentuk Kepanitian LK 1 masih tidak meng-SK-kan panitia. Lantas bagaimana legalitas kepanitian itu? Malah anehnya, si Panitia buat surat lagi. Padahal itu sudah diatur dalam Konstitusi: Pedoman Kesekretariatan. Hal lebih lagi, jika terbentuk Kohati di salah satu Korkom. Padahal dengan tegas Konstitusi mengatakan jika suatu lembaga harus berada di bawah struktur pimpinan, bukan lembaga lainnya.
Problematika lainnya masih banyak dari pengurus (terutama Komisariat) menyalah-gunakan pengambilan keputusan mana yang melalui Rapat Pleno, Rapat Presidium, Rapat Harian, dan Rapat Unit/Bidang. Juga masih banyak yang menyalah-artikan mana sifat jaringan yang mengatas-namakan delegasi atau utusan. Penyalah-artian ini jadi penting karena berkonsekuensi terhadap administratif. Jika para Kader HMI yang dikirm di kampus adalah bersifat utusan, bukan delegasi, maka harus ada surat Mandat/Tugas atau Keterangan yang dikeluarkan pihak struktur pimpinan. DLL.
Jika kita menganggap Konstitusi sebagai identitas dan alat kotrol organisasi, pantas tidakkah kita menafsir-bedakan dan sampai mengacak-ngacak ketentuan Konstitusi dan malah mengatas-namakan perkaderan HMI?
Bisakah kita mengatas-dirikan ber-HMI jika kita tak ber-Kontitusi? Tidak bisa. Sebagaimana Rene Descartes tidak bisa mendaku diri beraliran Filsafat Rasionalisme jika eksistensi akal/keberfikirannya ditiadakan. Oleh sebab itu, Keber-Konstitusi-an kita menjadi penting untuk mendaku ber-HMI, sepenting pentinya adanya takmir di sekretariat. Karena sekretariat adalah pusatnya peradaban perkaderan dan perjuangan HMI. (Sekali lagi, ampuni Adinda Milea, Kanda-Yunda, bila dinda salah)

Friday, December 22, 2017

Kuhaturkan Lewat Puisi

Puisi ini
Mungkin tak seindah puisi lainnya
Tapi bagiku, puisi ini punya arti
Tiap kata yang terangkai dalam puisi ini
Adalah pantulan dari senyummu
Yang mendorong penaku
Untuk menuliskannya

Puisi ini
Kamu tahu aku penulisnya
Karna, aku yang tak berani mengucapkannya
Puisi ini
Kamu tahu aku penulisnya
Karna, aku yang tak berani mengungkapkannya
Puisi ini
Pun, kamu tahu aku adalah penulisnya
Karna, aku yang tak tahu lagi harus bagaimana

Maka:
Kutitipkan saja puisi ini diingatanmu
Karna, aku percaya,
‘mengingat’, adalah virus kecil dari cinta
Yang jika dibiarkan olehmu,
aku adalah segalanya untukmu