Friday, November 24, 2017

Menyoal Tubuh

Tags


Tubuh adalah penjara/makam jiwa (Platon). Tubuh adalah sebuah mesin  (Rene Descartes). Saya hidup dalam tubuh saya. Tubuh adalah siapa saya. Saya adalah saya, sebatas tubuh saya (Jean-Paul Sartre). Disamping pikiran dan perasaan, terdapat Sang Penuntun yang lebih agung,... Ia adalah tubuhmu (Friedrich Nietzsche). Tubuh/yang mulai akrab/dengan saya ini/sebenarnya mayat yang saya pinjam... (sajak "Tubuh Pinjaman", Joko Pinurbo).
Menyoalkan tubuh adalah persoalan yang tak ada habisnya selama kita masih bertubuh. Siapa aku? Siapa tubuh ini? Apa aku berkuasa atas tubuh ini? Apa aku dan tubuh adalah satu? Ataukah, aku dan tubuh adalah dua entitas berbeda dalam penilaian?
******
Jauh sebelum seorang wanita tanpa busana menerobos area Bandara Internasional Supadio membikin geger Indonesia dan viral media sosial (15/1/2017), Spencer Tunick lebih dahulu membikin geger di New York meski tanpa viral di media sosial.
Kala itu Tunick berhasil mengumpulkan puluhan model yang Ia cari. Sebelum sesi pemotretan dimulai, Tunick terlebih dahulu memberikan penjelasan konsep pengambilan gambar kepada si para model. Tatkala sesi pemotretan tiba, di mana Tunick juga telah mengeluarkan aba-aba kepada para model tersebut, lantas puluhan model itu-pun dengan sukarela melepas pakaiannya. Telanjang. Beberapa ada yang menungging, terlentang, dan tengkurap. Tanpa menunggu jeda, Tunick pun langsung mengabadikan momen itu melalui kameranya. Klik.. Klik.
            Sama seperti wanita tanpa busana yang menerobos area Bandara Internasional Supadio, Tunick pun digiring penegak hukum dan didakwa menggangu ketertiban umum. Menyoalkan perihal ini kita bisa bertanya: Sebetulnya siapa yang berkuasa atas tubuh kita?
Di Indonesia, tubuh menjadi diskursus penting yang memicu polemik munculnya Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi. Dalam RUU ini secara tegas tubuh diposisikan sebagai sumber dosa dan kejahatan, karena itu tubuh mesti didisiplinkan. Dan yang akan mendisiplinkan adalah Negara sendiri.
Ternyata tidak hanya Negara yang berkuasa terhadap tubuh, Agama pun juga ikut andil dalam persoalan ketubuhan.
Islam memosisikan tubuh harus diperlakukan secara rigid. Bahkan agama ini punya kosa kata khusus pada bagian tubuh: aurat. Adapun dalam tradisi Budha, perayaan kebahagiaan “kebebasan” tubuh dikurung karena menghambat pencapaian menuju nirwana. Terlalu mengejar kenikmatan “kebebasan” tubuh membikin seseorang akan berreinkarnasi ke dalam wujud yang lebih buruk di kehidupan selanjutnya.
******
Sebelum mengenai diskursus tubuh dewasa ini mulai mendapat tempat dalam disiplin keilmuan sosial, UU Negara, dan bahkan saat ini tubuh menjadi faktor penting bagaimana seseorang bisa tampil dalam dunia seni, pelacakan tubuh dan kebertubuhan secara mendalam telah dianalis sejak era Yunani Kuno. Tapi, meskipun sudah dijadikan objek pembahasan pada masa itu, tubuh belum dianggap penting. Banyak pandangan menyoalkan tubuh pada waktu itu:
Pertama, digagas oleh Cyrenaic dengan pandangan bahwa kebahagiaan tubuh adalah kebahagiaan terpenting. Kedua, dari kaum Epicurean percaya bahwa kebahagiaan tubuh memang penting, tapi masih lebih penting kebahagiaan mental/jiwa. Kubu ketiga, kaum dari aliran Orpheus dengan begitu ekstrimnya mengatakan bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa “The Body is The Tomb Of The Soul”.
Kendati kurang dikenal, aliran di atas sangat mempengaruhi pandangan filsuf terkenal lainnya. Platon memandang tubuh (tubuh konkrit, red.) sebagai penjara jiwa. Platon mengatakan bahwa manusia harus berusaha melepaskan diri dari belenggu penjara tubuh agar dapat bebas menuju kesempurnaan jiwa. Tubuh bagi Plato adalah penghalang menuju keagungan dan kebahagiaan abadi.
Sementara bagi peradaban Romawi, tubuh sebagai pembatas jiwa yang mewujud. Para filsuf Romawi, terpengaruhi oleh Platon, menyebut bahwa jiwa sebagai bagian roh Tuhan dan tubuh sebagai bagian roh hewan. Tubuh dengan demikian harus ditinggalkan bila hendak mencapai kesempurnaan hidup surgawi.
Pandangan tubuh ini terus menubuh dalam tradisi filsafat Barat hingga ke Rene Descartes. Filsuf yang terkenal Lewat diktum: Saya berpikir maka saya ada (cogito ergo sum) ini, menganalogikan tubuh sebagai sebuah jam yang bergerak tanpa pikiran. Prinsip-prinsip mekanik diberlakukan pada tubuh, sementara roh Ketuhanan diberlakukan pada pikiran. Dengan kata lain, tubuh berada dalam aktivitas kelas dua. Atau tak ubahnya sebuah mesin.
Tubuh mengalami rekonstruksi kebertubuhan ketika paham filsafat eksistensialisme menyatakan kalau tubuh adalah diri. Dengan menyanggah paham dualisme Descartes, Jean-Paul Sartre menyatakan: Saya menghidup dalam tubuh saya. Tubuh adalah siapa saya. Saya adalah saya, sebatas tubuh saya. Sedangkan Friedrich Nietzsche, dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra sebelumnya juga telah mengatakan bahwa: Di samping pikiran dan perasaan, terdapat Sang Penuntun yang lebih agung, yaitu diri. Ia adalah tubuhmu.
******
Menurut Zen R.S, tubuh mulai menjadi perhatian ilmu sosial mulai abad 19. Kala itu Antropologi menjadi disiplin ilmu yang meletakkan tubuh sebagai bagian penting. Baru pada abad ke-20 tema tubuh menjadi titik pusat perhatian secara serius dalam diskursus sosiologi. Sehingga sejak ini lah tubuh tak lagi dipahami semata sebagai anasir fisikal melainkan juga sosial (the physical body is also social). Banyak teori yang muncul berkaitan “tubuh sosial” ini:  
Karl Marx memahami tubuh sebagai instrumen produksi, represi dan bernilai ekonomi; Maus dan Mead memandang tubuh sebagai media pembelajaran; Durkheim menyakini tubuh adalah instrumen pengorbanan individu kepada masyarakatnya; Weber memahami tubuh sebagai media asketisme religius; Simmel memandang tubuh sebagai dasar eksistensi masyarakat; Goffman memahami tubuh sebagai simbol diri; dan Mary Douglas meyakini tubuh sebagai suatu sistem simbol: Sebagaimana segala sesuatu melambangkan tubuh, demikian tubuh juga adalah simbol bagi segala sesuatu.
Dari semua nama itu, Michael Foucault adalah yang paling terkenal. Ia memandang tubuh sebagai instrumen kontrol kekuasaan sosial secara politis. Beberapa bukunya bahkan menjadi klasik dalam studi tubuh. Ia seperti menjungkirbalikkan tese filosofis para pendahulunya. Baginya, jiwa dan pikiran adalah efek dari tubuh. Tubuhlah penentunya. Turunan dari tese itu menyebabkan jiwa justru dimengerti sebagai perangkap bagi tubuh.
Secara rinici, Foucault menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan dalam wacana ketubuhan: (1) kekuasaan atas tubuh “kekuasaan eksternal” yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang), dan (2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh “kekuasaan internal”, berupa hasrat dan potensi libidonya.
Dari dua modus kekuasaan yang saling bertempur ini, di mana filsafat, agama, hingga negara adalah “kekuasaan dari luar” yang merepresi “kekuasaan dari dalam tubuh” memberi kita satu pemahaman pada aksiden wanita tanpa busana yang menerobos area Bandara Internasional Supadio, Tunick, bahwa puncak hasrat dan potensi libido kebertubuhan kita adalah mengenal batas dari hukum, tabu, dan undang-undang.
Tapi bersamaan dengan ini pula, budaya kontemporer ketubuhan saat ini tidak bisa menerima tubuh apa adanya. Tubuh menjelma menjadi sesuatu yang perlu dibentuk, diubah, dimodifikasi, bahkan dipilih sesuai keinginan pemiliknya. Mike Featherstone menjelaskan bahwa bersamaan meledaknya budaya konsumer, iklan, televisi, film dan produk-produk budaya populer, tubuh kini menemukan citranya sebagai komoditi. 
Puncaknya dalam era kebertubuhan saat ini kita akan menemukan satu diktum penting baru: Aku bukan apa lagi yang aku pikirkan. Aku adalah apa yang ditampilkan tubuhku.


EmoticonEmoticon