Wednesday, November 22, 2017

Untuk Kohati: Suara dari Dilan

Tags

Malam itu hari Ahad. Dua orang dari kami datang ke Jogja, dan lantas berinisiatif mengadakan reuni kecil-kecilan di warung kopi untuk bersua sapa melepas kangen setelah setengah tahun lebih tidak bertemu sejak berakhirnya kepengurusan. Banyak yang kami obrolkan, mulai dari kenapa masih pengangguran, kenapa masih belum wisuda, dan sampai menyerempet perihal Kohati.
Tapi, hal terpenting yang perlu ditekankan terlebih dahulu agar tidak bias dan dibanyak-tafsirkan kenapa perihal Kohati sampai hati menjadi topik obrolan kami, itu tak lepas dari keresahan bersama mengapa sosok Kohati yang tangguh, yang berjiwa emansipasi, dan yang berbicara atas prinsip kesetaraan, belum muncul ke permukaan di setiap lini perkaderan dan perjuangan HMI. Jujur tidak ada pembahasan lain malam itu, kalau-pun ada, itu jadi rahasia perusahaan: Ayu.
Lebih spesifiknya, pada malam itu kami membicarakan mengapa sosok Kohati yang mendaku sebagai Mar’atussholehah ini, yang diklasifikasikan dalam citra diri selain harus mandiri secara spritualitas dan ekonomi, adalah harus pula mandiri secara intelektual, politik, dan sosial budaya, belum kami temukan di tengah semakin kuat dan masifnya budaya patriarki menempat kaum ihwan di HMI sebagai sosok sentral.
Tentu tinjauan kami hanya pada perspektif kebudayaan di HMI saja, bukan melalui Konstitusi. Karena pada Konstitusi, HMI telah egalitarian.
Tapi paradoksnya, tanpa kita sadari, kebanyakan dari kita (laki-laki) telah patriarki sejak dalam pikiran. Kita selalu saja menempat-posisikan kaum ahwat di HMI sebagai pilihan ke 2 dan objek.
Tengoklah pada suksesi kepemimpinan. Masih sangat jarang kita mengangkat dan menempatkan ahwat pada satu pilihan kesetaraan. Jikapun ada ahwat memimpin, itu tak lebih karena tidak ada pilihan lain. Paling banter, biasanya ahwat ditempatkan sebagai Bendahara. Minim sekali di bagian lainnya, apalagi di bidang kajian dan sampai ketua umum. Tapi, lebih parahnya lagi, kaum ahwat masih saja merasa nyaman di zona ini. Mereka masih berleha-leha, merasa enak, dan tidak terganggu.
Persoalan di atas, memang banyak kemungkinan. Bisa saja dari kita memang sudah patriarki sejak pikiran, atau juga bisa kaum ahwat HMI masih belum bisa dipandang dalam satu pilihan kesetaraan. Tapi, kalau ada di antara kita masih berfikir bahwa ahwat tidak bisa memimpin karena HMI adalah organisasi Islam, dan Islam tidak memperbolehkan ahwat jadi pemimpin, maka lebih baik ubah saja ketentuan Hak Anggota dalam Kontitusi. Ubah kalau hak dipilih lebih bersifat terbatas lagi bahwa kaum ahwat tidak bisa dipilih.
Pada konteks lainnya, kaum ahwat di HMI selalu saja ditempat-perankan di belakang. Anggaplah satu contoh di kepengurusan ada kegiatan. Terus, dikasih pembagian siapa saja yang bertugas dalam kegiatan itu. Si Ahmad jadi pemateri, si Yudi jadi moderator, dan Si ahwat di dapur: masak-masak. Pada umumnya memang selalu begini. Jika tidak, karena ada persoalan lain.
Memang tidak ada salahnya Si ahwat membantu masak-masak, itu wilayah perkaderan dan perjuangan HMI pula. Tapi, kalau dapat peran masak-masak terus -tidak lainnya, itu yang jadi persoalan. Dan ketika dapat peranan seperti ini terus menurus, jarang ada protes dari kaum ahwat. Padahal sah-sah saja di antara mereka kalau mau bilang: “Mbo, yo, aku dikasih peran lain, Kanda, jangan masak terus. Kayak jadi moderator atau jadi pemateri gitu kek. Lama-lama aku buka warteg saja kalau disuruh masak terus.”
Jujur, kami merindukan sosok Kohati yang muncul ke permukaan dan berbicara di depan layar atas nama perkaderan dan perjuangan HMI seperti kau ihwan. Karena, kami tahu sosok Kohati bukan perempuan biasa. Kalau perempuan biasa, yang kata Kanda kita, kami tahu sukanya hanya es krim dan cokelat, walaupun lebih suka kepastian. Tapi, Kohati tidak demikian. Kohati adalah perempuan yang dicitra-dirikan memiliki kemandiran spritual, inteletual atau pendidikan, politik, sosial budaya, dan sampai kemandiran di bidang ekomoni.
Kami tidak bohong, apalagi sampai membual bahwa kami merindukan sosok Kohati yang dapat berbicara lantang “kalau di antara kalian (ahwat) juga bisa muncul dalam satu prinsip kesetaraan, tidak dijadikan pilihan kedua dan hanya masak-masak saja.” Sosok kohati yang kalau kata Kartini dideskrisipkan yang berani, yang berdiri sendiri, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat, keasyikan, tidak ikut-ikutan arus. Dan sosok kohati yang digambarkan sebagai tiang negara, yang apabila perempuan baik maka baiklah negara, dan apabila perempuan rusak maka rusak pulalah negara.
Jangan buat hati yang berharap –menunggu jawaban darimu, kalau kata Zainuddin, dikecewakan, apalagi sampai digantung. Dengan hati yang berharap kami tunggu jawaban darimu, karena tidak hanya perempuan, laki-laki juga butuh kepastian.


EmoticonEmoticon