Sunday, December 3, 2017

Kau (dalam) Aksara Kata

Tags

BUKAN CURHAT. Seperti mencerikan diri: Kau masih merabai kata, sembari berusaha mencari makna di tiap percakapan yang pernah hadir sebagai definisi bahagia paling sederhana-mu: dulu sekali; di kala detik-detik berdebu belum terjerat masa lalu.
Lalu kenangan..., menarik-mu dalam jeda panjang bernama jarak. Tatkala keterasingan-mu terjebak, ia menjelma bak sebuah labirin: tempat di mana kau tersesat dengan segala kerumitan yang amat sukar kau bahasakan. Kau mencoba memahami dan me-reka maksud di sela kata-kata'nya, tapi gagal. Kau coba lagi, gagal.
Alih-alih menemukan secercah sinar, malah kenyataan menyodorkan secangkir luka di tiap seduhan kopi-mu. Kau-pun terhempas dalam jurang luka tak bertepi dalam labirin itu -sakit. Kau sadar kau telah kalah. Ternyata memaksa perasaan yang tak memiliki harapan itu sia-sia.
Kau balik memundur, memaksa untuk memahami kalau “kenyataan” memang tak seindah perasaan-mu. Kau coba belajar membijak bahwa tak pernah jatuh berarti tak pernah tahu rasai makna bangkit, tapi lagi-lagi kau gagal. Bijak ternyata tak bisa datang dari hati yang goyah. Malah henyak kekosoangan hati yang menyeretmu ke dalam sepi.
Sepi itu menyelinap ke dinding hati-mu yang dulu pernah ia jamah, tanpa permisi, tanpa salam, tanpa sopan santun. Tak tahu adab. Asal masuk saja ke dalam keterasingan-mu di tengah kerumuan manusia, curang bukan?
Dan, dalam tekanan hati pertahanan-mu pun jebol, kau-pun menggerutu: Tuhan, bila Kau tak memperkenankan cinta yang kusemai dan pelihara, kenapa ia Kau bangun megah dalam sukma-ku?


EmoticonEmoticon