Friday, January 5, 2018

Sama (Analisis): Kritik atas Kritikan Pidato Ketua DPM UII

Tags

Ada perasaan yang terselib kala membaca tulisan dari: Kritik Atas Pidato Ketua DPM UII. Bukan karena akhirnya saya berkata (lagi dan lagi): “Wah, ada juga yang menulis tulisan seperti itu.” Tidak, melainkan: “Kok, ya, ya,...., itu saja yang jadi pembahasan (kurang enak dibaca oleh kader HMI) kala ada tulisan tentang HMI di LPM di tingkat Universitas.”
Bukannya apa atau ada apa. Toh, tiap orang kan sah-sah saja berkata-kata untuk saat ini bukan? Yang mana tiap kata-katanya tersimpul jadi kalimat hingga terbentuklah satu cerita –seperti yang (anda) tulis, dengan mengambil satu atau hanya dua premis sebagai dasar logikanya untuk mengonklusikan: Itulah HMI sebenarnya.
Atau lainnya, untuk mengaburkan suatu fakta (apa itu HMI bagi UII, pun UII bagi HMI) sesungguhnya (jika kata lain dari mengaburkan: ‘memutar-balikkan’ fakta, terlalu tendensius), (anda) mencoba bermain dalam kata-kata, yang tiap kata diubah artinya dan tiap arti kata diubah maknanya, tentu masih saja bersembunyi dari satu atau hanya dua premis sebagai dasar logika untuk mengonsklusikan: Kayak gitu lo, saudara-saudara, HMI itu di UII.
Sebenarnya, lagi-lagi saya bilang, itu tidak apa. Tiap orang sah-sah saja menilai HMI kayak apa dan gimana. Tapi, saudara-saudara, kalau saya diperbolehkan bermain kata-kata pula, bolehkan saya juga bercerita? Biar adil. Kalau dia diperbolehkan kenapa saya tidak? Setidaknya, cerita saya juga bisa mengaburkan suatu fakta.
Apakah HMI punya histori terhadap UII? Iya, benar, sebagaimana kita (mahasiswa UII) juga adalah sejarah bagi UII karena telah menyusup dan menempati waktu dan ruang di dalamnya. Bukankah UII dibangun bukan dari satu golongan? Iya, benar, banyak. Jadi bukan milik satu golongan, tapi tidak pula (anda) hendak mengaburkan satu golongan (HMI yang juga punya kontribusi), kan? Mudah-mudahan. Amin.
Terus, apakah HMI diistimewakan? Mungkin, iya –Lebih baiknya (anda) tanya kesiapa yang memberikan dan kenapa diberi keistimewaan. Kenapa begitu? Biar enak dan jelas, serta (anda) tidak terjebak genjutsu mugen tsukuyomi ketika menilai -atau paling tidak terkena fallacy of dramatic instance (over generalisation) kalau kata Jalaluddin Rahmat dalam mengonskulisakan HMI dan HMI (seperti demikian).
Pertanyaan selanjutnya, apakah HMI jadi tuan rumah? Mungkin pula, iya. Tapi, makna dari kata tuan rumah itukan banyak. Bisa saja kalian adalah tuan rumah karena kalian membuat rumah, (anggaplah orang asing) kemudian jadi menantu dari satu pemilik rumah juga bisa disebut tuan rumah, (anggaplah orang asing lagi) karena punya kedekatan emosional yang begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah lantas si pemilik rumah menganggapnya sebagai tuan rumah. Atau lainnya begini: Kita bermain pada satu rumah, terus si pemilik rumah bilang, “anggaplah seperti rumahmu sendiri,” bukankah kita juga jadi tuan rumah?
Jadi tuan rumah yang mana yang anda maksud itu penulis yang budiman? Tolonglah jangan buat saya bingung dari kata-kata yang mengaburkan banyak makna itu, yang seolah anda ingin memberikan ‘sesuatu’ tapi ketika saya hendak mendekat untuk mengambilnya, seraya bak fatamorgana, ternyata ‘sesuatu’ itu langsung hilang. Cukuplah yang berlaku kayak gini itu perempuan saja: sering meng-PHP-in. (sorry, bercanda)
(anggaplah) tuan rumah itu adalah dikarenakan mempunyai kedekatan emosional yang begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah, apakah itu salah? Terus kalau kayak gitu apalagi yang jadi masalah? Masih mau bermain-main lagi dalam kata-kata cerita untuk genjutsu-genjutsuan? Tidak apa.
Tapi, sebelum itu, saya hendak mengajak anda, seperti halnya kisah (histori HMI dan UII) yang (oleh saya) dianalogikan seraya perjalanan Tong Sam Cong mengambil kitab suci ke barat (yang mana dari kitab suci membuat pemilik rumah mengangap kita sebagai tuan rumah atau tidak), yang harus melalui 33 tangtangan dan 99 rintangan, yang harus berjalan setapak demi setapak mendaki gunung, lewati lembah, serta bertemu dan menghadapi para siluman (anggaplah siluman ini adalah bagaimana HMI ikut berkontribusi dalam kasus Kampus Antara, Kasus dugaan Korupsi berapa birokrat pada tahun 2013, dlll), setelah melalui semua itu, Sam Cong pun bertanya pada Go Kong. “Tadi saya dikritik (analisis) lewat persoalan ‘tuan rumah’.”
“Sudahlah guru jangan ditanggapin. Mereka tidak tahu bagaimana perlajanan guru mengambil kitab suci ke barat. Hanya mengambil potongan cerita sebagaimana satu atau hanya dua premis untuk mengonklusikan perjalanan guru ke barat,” kakak pertama itu terdiam sebentar dan seperkian detik kemudian (sebagaikesimpulan saya terhadap analis kritik tulisan anda, pun (mungkin) tulisan saya ini), Go Kong berkata:
“Seperti katamu, guru, (pun, mengenai tulisan itu) adalah, 'Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi,' dengan mengaburkan berbagai fakta dalam kata-kata untuk membuat cerita yang sama sekali tiada makna dan artinya."


EmoticonEmoticon